Media Kampung – 30 Maret 2026 | Industri K‑pop semakin menonjolkan keragaman internasional, terbukti dengan delapan penyanyi wanita non‑Korea yang menjabat sebagai visual utama di grup masing‑masing.

Tzuyu, anggota termuda TWICE asal Taiwan, telah ditetapkan sebagai visual sejak debut pada 2015. Tinggi badan yang mencolok dan fitur wajah simetris menjadikannya simbol kecantikan grup.

Shuhua, maknae i‑dle yang juga berasal dari Taiwan, memegang peran vokalis sekaligus visual. Ia pindah ke Korea pada usia 17 tahun dan dikenal karena penampilan alami yang sering dibandingkan dengan aktris muda Taiwan.

Xiaoting, perwakilan China dalam grup Kep1er, memperoleh julukan Visual Queen setelah menonjol di ajang survival Girls Planet 999. Tinggi 169 cm dan mata berbentuk almond menyesuaikan standar estetika Korea.

Yiren, anggota EVERGLOW yang lahir di Hangzhou, menempati posisi visual, center, serta maknae. Kepribadiannya yang energik dan penampilan kuat menambah daya tarik grup di pasar Asia.

Anna, representasi Jepang di grup MEOVV, memperlihatkan gaya K‑pop dengan sentuhan estetika Jepang. Karisma panggungnya membantu grup menembus pasar Jepang dan Korea sekaligus.

Sakura, anggota LE SSERAFIM yang berakar dari Jepang, berperan sebagai visual dengan wajah bersinar dan gerakan yang terlatih. Ia menambah dimensi internasional pada konsep grup yang menekankan kekuatan wanita.

Pharita, anggota BABYMONSTER asal Thailand, menjadi visual termuda dalam generasi baru. Penampilannya yang segar dan ekspresi karismatik menarik perhatian penggemar muda di Asia Tenggara.

Kyulkyung, mantan anggota PRISTIN yang lahir di China, terus berkarier sebagai solo artis dan kadang muncul sebagai visual dalam proyek kolaborasi. Pengalaman grup sebelumnya memperkuat citra visualnya.

Keberadaan para visual non‑Korea memperluas jangkauan pasar K‑pop, karena masing‑masing membawa budaya asalnya ke dalam penampilan visual, kostum, dan interaksi dengan penggemar.

Manajer grup mengungkapkan bahwa keputusan menempatkan anggota non‑Korea sebagai visual didasarkan pada kombinasi estetika, panggung, dan kemampuan berbahasa asing. ‘Kami ingin menampilkan wajah yang dapat berkomunikasi dengan penonton global,’ ujar salah satu produser.

Penggemar merespon positif, dengan meningkatnya pencarian nama-nama anggota di platform internasional. Statistik streaming menunjukkan lonjakan 12 % pada lagu grup yang menampilkan visual tersebut.

Analisis industri menilai tren ini sebagai bagian dari strategi agensi untuk menembus pasar luar negeri, terutama di Taiwan, China, Jepang, dan Thailand, yang kini menjadi pasar utama K‑pop.

Meskipun standar kecantikan tradisional Korea masih berpengaruh, agensi semakin membuka peluang bagi talenta luar negeri yang memenuhi kriteria visual. Hal ini mencerminkan evolusi citra K‑pop yang lebih inklusif.

Sebagai penutup, delapan visual non‑Korea tersebut tidak hanya memperkaya tampilan grup, tetapi juga menjadi duta budaya yang menghubungkan Korea dengan negara asal mereka, memperluas jaringan fanbase global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.