Media Kampung – 10 April 2026 | Israel melanjutkan operasi militer ke wilayah Lebanon pada Kamis pagi, menandai eskalasi terbaru setelah perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Tehran.

Pemerintah Washington dan Tel Aviv sepakat memisahkan front Lebanon dari perjanjian gencatan senjata Iran, memberi izin bagi pasukan Israel untuk memperluas serangan di selatan Beirut dan daerah sekitarnya.

Serangan tersebut menargetkan kawasan perbatasan selatan Beirut serta beberapa titik di Lebanon selatan, dengan penggunaan pesawat tempur dan artileri jarak jauh.

Pada Rabu sebelumnya, Israel melancarkan serangan terbesar sejak 2022, bertepatan dengan pengumuman Presiden AS Donald Trump tentang gencatan senjata sementara dengan Iran.

Berbeda dengan klaim Iran dan Pakistan yang menyatakan bahwa gencatan senjata mencakup seluruh wilayah, Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.

Baca juga:

Seorang sumber keamanan Israel yang dikutip Yedioth Ahronoth menyebut bahwa kedua negara telah mencapai pemahaman untuk memisahkan front Lebanon dari negosiasi Iran, menekankan fokus pada ancaman Hezbollah.

Menurut perkiraan militer Israel, Hezbollah memiliki lebih dari 15.000 anggota; Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir berjanji akan terus menekan kelompok tersebut tanpa henti.

Pertemuan kabinet keamanan Israel pada pukul 02.00 dini hari menyampaikan arahan Perdana Menteri terkait detail gencatan senjata dengan Iran dan pengecualian Lebanon, menurut pernyataan otoritas penyiaran negara.

Foto-foto menunjukkan asap tebal setelah serangan udara menabrak pinggiran selatan Beirut, khususnya wilayah Dahiyeh, dengan kredit foto dari EPA/WAEL HAMZEH.

Menteri Luar Negeri Israel Ze’ev Elkin menyatakan bahwa serangan hari Rabu menghancurkan jaringan komando Hezbollah, menewaskan ratusan pemimpin dan menghancurkan gudang senjata mereka.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengutuk keras serangkaian serangan Israel ke Lebanon, menyebutnya pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Baca juga:

Jakarta menuntut Israel menghentikan semua operasi militer di Lebanon secara permanen dan menekankan pentingnya melindungi warga sipil serta infrastruktur sipil sesuai norma internasional.

Data resmi Lebanon mencatat lebih dari 250 korban jiwa, sementara Palang Merah Lebanon memperkirakan jumlah tewas dapat mencapai 300 orang, termasuk kerusakan pada fasilitas publik.

Pihak Israel mengklaim telah menghancurkan sekitar 100 target militer milik Hezbollah, namun serangan tanpa peringatan menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.

Peningkatan ketegangan ini berpotensi memperburuk stabilitas Timur Tengah, mendorong negara‑negara lain untuk menahan diri dan mengutamakan dialog demi de‑eskalasi.

Situasi di Lebanon tetap rapuh, dengan penduduk sipil menunggu bantuan kemanusiaan sementara diplomasi internasional berupaya menghentikan siklus kekerasan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.

Baca juga: