Media Kampung – 08 April 2026 | PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melaporkan penurunan laba bersih sebesar 43 persen pada tahun 2025, menjadi Rp 2,93 triliun, akibat meningkatnya beban operasional.
Beban operasional perusahaan naik Rp 36,39 triliun atau 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) setelah pencabutan subsidi FAME dan kewajiban B40.
Kenaikan BBM mencapai 13 persen secara tahunan, menambah biaya transportasi tambang dan kereta api, serta memperbesar beban umum dan administrasi sebesar Rp 261,88 miliar (13 persen).
Penjualan PTBA pada 2025 mencapai Rp 45,41 triliun, meningkat 6 persen, sementara pendapatan total mencapai Rp 42,65 triliun, mencerminkan pertumbuhan volume produksi batu bara sebesar 9 persen.
Ekspor menyumbang 46 persen dari total penjualan, dengan Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina sebagai pasar utama, sedangkan pasar domestik tetap 54 persen.
Harga batu bara global melemah, tercermin dari penurunan Newcastle Index sebesar 22 persen dan ICI‑3 turun 16 persen, mengurangi rata‑rata harga jual sebesar 6 persen tahun ini.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menilai kinerja kuartalan tetap solid berkat optimalisasi portofolio ekspor dan peningkatan efisiensi biaya, meski profitabilitas keseluruhan terdampak.
PTBA juga mengumumkan rencana kerja sama dengan mitra untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Mempawah, dengan target dimulainya pekerjaan fisik pada tahun 2027.
Proyek PLTU diharapkan menambah nilai tambah energi terbarukan dan mengoptimalkan pemanfaatan batu bara domestik, selaras dengan kebijakan energi nasional.
Pada kuartal pertama 2026, PTBA mengalokasikan Rp 25,8 miliar untuk kegiatan eksplorasi di Tanjung Enim Mining Site (TEMS), meliputi pemetaan geologi, pengeboran, logging geofisika, dan pengujian sampel.
Eksplorasi mencakup 94 titik bor dengan total kedalaman 14.652 meter di empat IUP (Air Laya, MTB, Banko Barat, Banko Tengah B), serta pengambilan lebih dari 1.200 contoan batu bara.
Selain itu, perusahaan melakukan 302 contoan batuan untuk uji keasaman dan 693 contoan untuk uji mekanika, serta monitoring Top of Coal (TOC) dan Bottom of Coal (BOC) seluas 602 hektar.
Aktivitas eksplorasi tersebut bertujuan memperluas cakupan area tambang, meningkatkan cadangan, dan menyiapkan basis produksi jangka panjang.
Meskipun laba menurun, PTBA mencatat arus kas operasional yang kuat, memungkinkan perusahaan menahan rencana buyback saham dalam jangka pendek.
Direktur Utama Arsal Ismail menyatakan bahwa opsi buyback masih terbuka, namun belum diprioritaskan karena fokus pada stabilitas keuangan dan potensi kenaikan harga batu bara.
Ismail menambahkan bahwa keputusan buyback akan dipertimbangkan kembali bila kondisi pasar dan likuiditas perusahaan lebih menguntungkan.
Analis pasar menilai penurunan laba bersih PTBA mencerminkan tekanan biaya eksternal, namun fundamental produksi yang kuat memberikan ruang bagi pemulihan pada tahun 2027.
Eksplorasi terbaru di TEMS diharapkan menghasilkan cadangan baru yang dapat menambah volume produksi sebesar 5‑7 persen dalam lima tahun ke depan.
Proyek PLTU di Mempawah diperkirakan akan menghasilkan kapasitas pembangkit sekitar 1.200 megawatt, memperkuat peran PTBA dalam rantai nilai energi nasional.
Dengan kombinasi ekspansi produksi, investasi eksplorasi, dan rencana pembangkit listrik, PT Bukit Asam berupaya mengatasi tekanan biaya dan menjaga profitabilitas jangka panjang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan