Media Kampung – 07 April 2026 | Pedagang pasar tradisional melaporkan kenaikan tajam harga plastik, yang kini tiga kali lipat dibandingkan beberapa bulan lalu.
harga plastik merk tomat, satu pak, melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu, menambah beban biaya operasional para penjual.
Kenaikan tersebut dirasakan terutama oleh pedagang sayur, buah, dan barang kemas yang bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga kebersihan dan kesegaran produk.
Sebagian pedagang menyatakan bahwa kenaikan harga memaksa mereka menaikkan harga jual barang, sehingga daya beli konsumen tertekan.
Seorang penjual sayur di Surabaya, yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku harus menambah margin sekitar 20 persen untuk menutupi biaya kemasan.
Ia menambahkan bahwa sebagian pelanggan mulai menolak membeli barang karena harga total terasa mahal.
Ketersediaan plastik juga dilaporkan menurun, dengan beberapa distributor melaporkan stok terbatas dan pengiriman yang tidak menentu.
Situasi ini memperparah kekhawatiran pedagang yang sudah menghadapi penurunan volume penjualan sejak awal tahun.
Para pedagang mengaitkan lonjakan harga plastik dengan kenaikan harga minyak dunia, yang menjadi bahan baku utama produksi plastik.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa harga minyak mentah global naik sekitar 30 persen dalam enam bulan terakhir.
Kenaikan biaya bahan baku berdampak langsung pada produsen plastik, yang pada gilirannya meneruskan biaya tambahan kepada pengecer.
Selain faktor global, kebijakan pajak dan regulasi lingkungan juga turut mempengaruhi harga akhir produk plastik.
Beberapa daerah menerapkan pajak tambahan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, yang menambah beban biaya produksi.
Pemerintah pusat belum mengumumkan langkah khusus untuk menstabilkan harga plastik, meski ada desakan dari asosiasi pedagang.
Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPT) menuntut intervensi berupa subsidi atau penurunan pajak bahan baku plastik.
APPT juga meminta peningkatan distribusi plastik dari produsen untuk memastikan pasokan yang cukup di tingkat pasar.
Para ahli ekonomi menilai bahwa fluktuasi harga bahan baku memang wajar, namun dampaknya harus diantisipasi melalui kebijakan moneter yang tepat.
Sementara itu, konsumen di tingkat akhir merasakan kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari, terutama yang dikemas plastik.
Studi singkat oleh Lembaga Konsumen Nasional mencatat kenaikan rata-rata harga produk kemasan sebesar 15 persen selama tiga bulan terakhir.
Kenaikan ini menambah beban rumah tangga, terutama di kelas menengah ke bawah yang mengalokasikan sebagian besar pendapatan untuk kebutuhan pokok.
Beberapa pedagang mencoba alternatif seperti menggunakan kemasan kain atau kardus, namun biaya produksi alternatif masih lebih tinggi.
Penggunaan kemasan alternatif juga membutuhkan perubahan perilaku konsumen yang belum sepenuhnya terbiasa.
Di beberapa wilayah, pemerintah daerah telah meluncurkan program daur ulang plastik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru.
Program tersebut diharapkan dapat menurunkan permintaan bahan baku baru, namun implementasinya masih dalam tahap awal.
Sementara itu, produsen plastik berjanji meningkatkan kapasitas produksi dan menambah stok untuk memenuhi permintaan pasar.
Namun, peningkatan produksi membutuhkan waktu dan investasi, sehingga tidak dapat segera menurunkan harga.
Pedagang berharap agar kebijakan fiskal dan regulasi dapat diselaraskan sehingga tidak menambah beban biaya tambahan.
Jika tidak ditangani, kenaikan harga plastik dapat berpotensi memicu inflasi pada sektor makanan dan kebutuhan rumah tangga.
Sebagai penutup, situasi harga plastik yang melonjak tiga kali lipat menuntut koordinasi antara pemerintah, produsen, dan pedagang untuk menjaga kestabilan pasar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan