Media Kampung – 06 April 2026 | Jumlah driver ojek online (ojol) terus bertambah, sementara rata‑rata pendapatan mitra Gojek, Grab, dan Maxim mengalami penurunan signifikan pada kuartal terakhir 2025. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan usaha transportasi daring.

Data internal aplikasi menunjukkan pertambahan driver aktif mencapai 12 persen dibandingkan tahun lalu, menambah total lebih dari satu juta pengemudi di seluruh Indonesia. Namun, pertumbuhan ini tidak diimbangi kenaikan order.

Pengemudi melaporkan penurunan pendapatan harian hingga 20 persen akibat penurunan volume order dan kenaikan biaya operasional. Biaya bensin, perawatan kendaraan, serta iuran JKK dan JKM semakin memberatkan.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan rata‑rata driver ojol memperoleh Bonus Hari Raya (BHR) sekitar Rp150 ribu, sementara taksi online mendapatkan Rp200 ribu. Angka ini masih jauh dari harapan sebagian besar mitra.

Pemerintah melalui draf Perpres Ojol mengusulkan penurunan komisi aplikasi dari 20 persen menjadi 10 persen serta mewajibkan kontribusi iuran JKK dan JKM. Kebijakan ini dipandang dapat mengurangi beban biaya, namun menimbulkan keraguan soal profitabilitas platform.

Gojek, Grab, dan Maxim merespon dengan menambah paket BHR, insentif, serta sembako bagi driver yang aktif selama Ramadan. Program ini menargetkan 50 ribu pengemudi Maxim dan jutaan mitra Gojek serta Grab.

Maxim mengumumkan skema bonus berbasis keaktifan, performa, dan kepatuhan, dengan nilai BHR minimal Rp150 ribu. Pengemudi yang memenuhi kriteria dapat menerima tambahan paket sembako dan komisi nol persen.

Gojek dan Grab menyiapkan bonus tambahan di atas BHR, termasuk potongan biaya layanan dan layanan asuransi BPJS gratis. Syaratnya meliputi minimal 30 hari aktif dan kepatuhan pada standar kualitas order.

Menurut asosiasi ojol, sebagian driver menolak “off‑bid” ketika kondisi lalu lintas padat, terutama saat Ramadan, karena margin yang semakin tipis. Hal ini menurunkan tingkat pemenuhan order di jam sibuk.

Analisis Katadata menunjukkan bahwa peningkatan driver tidak sejalan dengan pertumbuhan order, yang justru menurun pada minggu‑minggu terakhir sebelum Lebaran. Kelebihan pasokan driver memperburuk persaingan harga.

Beberapa driver mengajukan keluhan melalui Posko THR di masing‑masing kabupaten, menuntut kejelasan mekanisme distribusi BHR. Pemerintah menegaskan bahwa BHR dihitung 25 persen dari rata‑rata pendapatan bersih 12 bulan terakhir.

Total dana BHR yang dialokasikan oleh aplikasi diperkirakan mencapai Rp220 miliar untuk 850 ribu driver pada Ramadan 2026. Angka ini mencerminkan upaya menjaga kepuasan mitra di tengah tekanan biaya.

Namun, driver mengkritik besaran BHR yang dianggap tidak mencukupi mengingat biaya operasional yang naik dua kali lipat sejak 2023. Mereka menuntut kenaikan minimal Rp200 ribu atau pengurangan komisi lebih lanjut.

Sementara itu, pemerintah menyiapkan regulasi yang dapat menurunkan komisi menjadi 10 persen, namun belum ada kepastian tanggal implementasi. Jika berlaku, platform harus menyesuaikan model bisnisnya.

Gojek, Grab, dan Maxim menyatakan kesiapan menyesuaikan tarif dan insentif untuk menjaga margin driver. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi dengan regulator untuk menciptakan ekosistem yang adil.

Pakar transportasi online, Fauza Syahputra, mencatat bahwa lonjakan driver disebabkan oleh masuknya pekerja informal yang mencari penghasilan cepat. Ia menambahkan bahwa diversifikasi layanan, seperti pengiriman barang, dapat menambah pendapatan.

Beberapa platform telah meluncurkan layanan tambahan, termasuk pengantaran makanan, belanja, dan logistik, untuk meningkatkan peluang order bagi driver. Namun, pendapatan per order tetap tertekan oleh biaya platform.

Dampak peningkatan driver dan penurunan pendapatan juga dirasakan oleh investor, dengan nilai saham Gojek dan Grab mengalami fluktuasi negatif pada kuartal terakhir. Analis menilai risiko berkelanjutan jika biaya tidak terkendali.

Pemerintah mengingatkan bahwa kebijakan BHR dan pengurangan komisi harus diimbangi dengan perlindungan sosial bagi driver, termasuk asuransi kecelakaan dan jaminan pensiun. Upaya ini diharapkan menstabilkan lapangan kerja.

Secara keseluruhan, tren pertumbuhan driver ojol bersamaan dengan penurunan pendapatan menandai fase kritis bagi industri transportasi daring, yang memerlukan sinergi antara regulator, platform, dan mitra untuk menjaga kelangsungan.

Dengan peningkatan biaya operasional, kebijakan BHR, dan rencana pengurangan komisi, masa depan driver ojol bergantung pada kemampuan semua pihak mengelola margin secara berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.