Media Kampung – 05 April 2026 | Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan cadangan beras pemerintah telah mencapai 4,4 juta ton pada 2 April 2026 dan diproyeksikan menembus 5 juta ton menjelang akhir bulan.
Target tersebut diharapkan memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman fenomena El Nino yang dapat menurunkan produksi padi.
Data Perum Bulog menunjukkan stok beras sebesar 4,4 juta ton setara 169 persen kebutuhan bulanan negara, memberikan ruang aman bagi pasokan dan harga.
Selain beras, Bulog mencatat persediaan jagung 168 ribu ton, gula konsumsi 49 ribu ton, dan minyak goreng 121 ribu kiloliter, menambah ketahanan pangan.
Deputi Bapanas I Gusti Ketut Astawa menekankan pentingnya penguatan cadangan pangan di tingkat daerah untuk meratakan distribusi stok.
Data Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) mencatat total 14.169,03 ton tersebar di 322 kabupaten/kota.
Provinsi Jawa Barat menyumbang cadangan terbesar di tingkat daerah dengan 2.790,9 ton, diikuti Banten 2.007,25 ton.
Secara provinsi, total Cadangan Beras Pemerintah Provinsi (CBPP) mencapai 7.561,23 ton, dengan 33 provinsi telah memiliki regulasi pengelolaan.
Jawa Barat juga memimpin di level provinsi dengan 2.626,94 ton, sementara Jawa Timur menempati posisi kedua dengan 825,36 ton.
Ketut menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah diperlukan untuk meningkatkan luas tambah tanam (LTT) dan distribusi pupuk.
Ia menambahkan bahwa Bapanas telah mengeluarkan perintah kepada seluruh jajaran untuk mempercepat penyediaan pupuk dan benih sejak beberapa bulan terakhir.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mencatat bahwa stok 4,4 juta ton merupakan rekor tertinggi sejak kemerdekaan Indonesia.
Rizal menambahkan bahwa pencapaian ini melampaui catatan sebelumnya sebesar 4,2 juta ton pada tahun 2025.
Menurutnya, stok beras nasional dapat mencapai 5 juta ton pada akhir April atau awal Mei 2026.
Badannya menyatakan bahwa pencapaian ini penting mengingat kondisi geopolitik global yang menambah tekanan pada pasar pangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional Januari‑Mei 2026 turun 0,38 juta ton atau 2,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi diperkirakan dipengaruhi oleh cuaca tidak menentu dan potensi kekeringan akibat El Nino.
Meski begitu, pemerintah yakin bahwa peningkatan cadangan dapat menutupi defisit produksi.
Upaya penguatan cadangan mencakup peningkatan LTT, penyediaan pupuk bersubsidi, serta perbaikan infrastruktur irigasi.
Ketua Bapanas menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat preventif untuk menghindari lonjakan harga pangan.
Ia menambahkan bahwa kesiapan logistik distribusi beras ke daerah rawan juga menjadi prioritas.
Pengalaman menghadapi El Nino pada 2023‑2024 memberikan pelajaran bagi otoritas untuk memperbaiki sistem peringatan dini.
Amran menyatakan bahwa pemerintah telah mengintegrasikan data cuaca, produksi, dan stok dalam platform pemantauan nasional.
Dia menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, melainkan juga pada manajemen stok yang efisien.
Penguatan cadangan juga diharapkan dapat menstabilkan harga beras di pasar domestik.
Para analis memperkirakan bahwa stabilitas pasokan beras dapat meredam inflasi pangan yang menjadi beban konsumen.
Kebijakan ini selaras dengan target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan pada akhir tahun 2026.
Rizal mencatat bahwa pencapaian stok 5 juta ton akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris yang mandiri.
Ia menutup dengan optimisme bahwa langkah-langkah tersebut akan meningkatkan kesejahteraan petani.
Petani di beberapa provinsi melaporkan peningkatan akses pupuk dan bibit berkat program pemerintah.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan mengurangi kerentanan terhadap iklim.
Secara keseluruhan, pemerintah menilai bahwa kombinasi stok strategis, dukungan kebijakan, dan kerja sama daerah menjadi kunci mengatasi tantangan pangan.
Dengan cadangan beras yang diperkirakan mencapai 5 juta ton, Indonesia berada pada posisi lebih siap menghadapi fluktuasi iklim dan pasar global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








Tinggalkan Balasan