Media Kampung – 04 April 2026 | Triyulianti, seorang ibu dari empat anak yang masih kecil, menghidupi keluarganya dengan menjadi pengemudi ojek online di Sidoarjo. Setiap pagi ia harus meninggalkan bayi berusia tiga bulan demi mencari nafkah di jalanan.

Novi, seorang pengemudi taksi di ibu kota, juga menempuh perjalanan panjang dari subuh hingga larut malam demi menghidupi anak tunggalnya. Kedua wanita ini mewakili jutaan perempuan Indonesia yang berjuang melampaui keterbatasan ekonomi.

Banyak perempuan prasejahtera harus memikul peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga, seringkali tanpa dukungan keuangan yang memadai. Beban itu semakin berat ketika harus menanggung penghasilan suami yang tidak tetap atau membantu orang tua.

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menanggapi kebutuhan tersebut dengan program PNM Mekaar yang fokus pada pemberdayaan perempuan ultra‑mikro. Program ini menawarkan pembiayaan tanpa agunan serta pendampingan usaha secara rutin.

Setiap nasabah Mekaar menerima pelatihan literasi keuangan, manajemen usaha, dan keterampilan wirausaha yang disampaikan dalam sesi mingguan. Pendampingan tersebut dilakukan oleh Account Officer PNM yang memantau perkembangan usaha secara langsung.

Mekaar mengadopsi mekanisme kelompok kecil atau tanggung renteng, dimana minimal sepuluh perempuan dari satu lingkungan bergabung dalam satu unit pembiayaan. Pendekatan kolektif ini menumbuhkan disiplin pembayaran dan solidaritas antar anggota.

Kelompok tidak hanya menjadi sarana administrasi, melainkan jaringan sosial yang saling membantu ketika salah satu anggota menghadapi kendala operasional atau pembayaran. Ketua kelompok berperan mengkoordinasikan bantuan internal sesuai arahan AO.

Dalam versi syariah, Mekaar menggunakan akad murabahah, wakalah, dan wadiah yang bebas bunga, sejalan dengan fatwa Dewan Syariah Nasional MUI. Prinsip syariah diterapkan tanpa mengubah struktur kelompok atau frekuensi pendampingan.

Arief Mulyadi, Direktur Utama PNM, menegaskan bahwa lembaga ini telah menjalankan mandat negara selama dua puluh enam tahun untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Ia menilai program Mekaar sebagai terobosan dalam mengurangi kemiskinan gender.

“Selama 26 tahun PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia, khususnya prasejahtera,” ujar Mulyadi dalam sebuah konferensi pada 24 Maret 2026. Pernyataan itu menegaskan komitmen jangka panjang PNM.

Razaq Manan Ahmad, EVP Pengembangan & Jasa Manajemen PNM, menambahkan bahwa pemberdayaan perempuan menjadi inti strategi pembangunan berkelanjutan lembaga. Ia menekankan bahwa kekuatan perempuan berimplikasi langsung pada kemajuan bangsa.

“Stronger the women, stronger the nation. Perempuan merupakan motor penggerak utama dalam menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial,” kata Ahmad. Ia juga menyebutkan bahwa 73 persen pembiayaan PNM kini berbasis syariah, disertai pendampingan intensif.

Hingga Februari 2026, PNM telah melayani 22,9 juta nasabah perempuan ultra‑mikro, mencakup hampir seluruh provinsi Indonesia. Angka tersebut menunjukkan skala luas program dalam menjangkau segmen yang paling rentan.

Program Mekaar telah hadir di lebih dari 60.250 desa dan kelurahan, memperluas akses modal ke daerah terpencil sekaligus memperkuat jaringan komunitas lokal. Keberadaan kelompok di wilayah tersebut meningkatkan inklusi keuangan secara signifikan.

Dengan capaian tersebut, Mekaar menjadi salah satu lembaga pemberdayaan perempuan terbesar di dunia, melampaui banyak institusi mikrofinansial global. Keberhasilan ini didukung oleh kombinasi pembiayaan, pelatihan, dan model kelompok yang terbukti efektif.

Ke depan, program ini diharapkan terus memperbaiki kesejahteraan keluarga perempuan Indonesia serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif. Dukungan pemerintah dan sektor swasta menjadi faktor kunci dalam memperluas dampak Mekaar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.