Media Kampung – 04 April 2026 | PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melaporkan lonjakan penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebesar 4,14 kali lipat selama periode mudik Lebaran 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Data tersebut diambil dari sistem monitoring real‑time PLN yang mencatat transaksi pengisian kendaraan listrik di lebih dari 300 titik SPKLU nasional.
Peningkatan ini terjadi meski total kendaraan listrik yang beredar hanya naik sekitar 12 persen pada tahun yang sama, menandakan pergeseran perilaku konsumen saat melakukan perjalanan jauh.
Direktur Operasional PLN, Budi Santoso, menyatakan bahwa faktor utama peningkatan tersebut adalah meningkatnya kesadaran pemilik kendaraan listrik akan ketersediaan infrastruktur pengisian yang lebih luas.
“Kami mencatat peningkatan signifikan penggunaan SPKLU selama mudik,” ujarnya dalam konferensi pers pada Senin, 1 April 2026.
Ia menambahkan bahwa PLN telah menambah kapasitas pengisian di rute‑rute utama menuju Jawa, Sumatra, dan Kalimantan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
Pembukaan SPKLU baru di kawasan perbatasan dan stasiun kereta api menjadi prioritas sejak akhir 2025, sehingga pengendara dapat mengisi daya sebelum melanjutkan perjalanan.
Di wilayah lain, seperti Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan, pertumbuhan penggunaan SPKLU mencapai 8 kali lipat, menandakan adopsi awal yang cepat.
Pemerintah Indonesia menargetkan 30 persen kendaraan bermotor baru yang terjual pada tahun 2026 berupa kendaraan listrik, sejalan dengan kebijakan pengurangan emisi karbon.
Program insentif pembelian mobil listrik serta subsidi pemasangan SPKLU di area publik menjadi pendorong utama peningkatan ini.
Selain itu, tarif listrik khusus untuk pengisian kendaraan listrik yang lebih rendah dibandingkan tarif rumah tangga juga menarik minat konsumen.
PLN mencatat rata‑rata durasi pengisian per kendaraan menurun dari 45 menit menjadi 35 menit berkat teknologi fast‑charging yang diterapkan pada 2025.
Hal ini memungkinkan pengendara melakukan pengisian cepat tanpa mengganggu jadwal mudik yang padat.
Analisis internal menunjukkan bahwa 70 persen pengisian terjadi pada kendaraan penumpang, sementara sisanya pada kendaraan niaga ringan.
Penggunaan SPKLU pada kendaraan niaga ringan meningkat 5,2 kali lipat, mencerminkan pergeseran logistik ke energi bersih.
Beberapa operator SPKLU swasta melaporkan peningkatan pendapatan hingga 250 persen selama periode mudik.
Kerjasama antara PLN dan perusahaan swasta dalam model bisnis bagi hasil dinilai berhasil mempercepat penyebaran infrastruktur.
Pengguna mengaku merasa lebih nyaman karena dapat mengakses layanan pengisian melalui aplikasi seluler yang menampilkan lokasi, ketersediaan slot, dan estimasi biaya.
Fitur pembayaran digital yang terintegrasi dengan e‑money nasional juga memudahkan transaksi tanpa kontak.
Selama mudik, rata‑rata jarak tempuh kendaraan listrik mencapai 550 kilometer, menuntut setidaknya dua kali pengisian per perjalanan.
PLN memastikan ketersediaan listrik yang stabil di setiap SPKLU, mengingat beban tambahan dapat mempengaruhi jaringan distribusi.
Tim teknis PLN melakukan audit kapasitas jaringan setiap tiga bulan untuk menghindari overload.
Jika terjadi gangguan, prosedur pemulihan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Pengguna juga melaporkan tingkat kepuasan layanan di atas 85 persen, berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga independen.
Survei tersebut menilai aspek kebersihan, keamanan, dan kecepatan layanan sebagai faktor utama kepuasan.
Dalam jangka panjang, PLN menargetkan peningkatan jaringan SPKLU hingga 1.000 titik pada akhir 2027.
Target tersebut sejalan dengan rencana nasional untuk mencapai net‑zero emissions pada tahun 2060.
Para analis industri memandang lonjakan penggunaan SPKLU selama mudik sebagai indikator pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang berkelanjutan.
Mereka menambahkan bahwa pola konsumsi ini dapat mempengaruhi kebijakan tarif listrik dan regulasi energi di masa depan.
PLN berkomitmen untuk terus memantau tren penggunaan dan menyesuaikan strategi infrastruktur guna mendukung mobilitas bersih.
Dengan catatan peningkatan empat kali lipat selama mudik Lebaran 2026, perusahaan menegaskan kesiapan menghadapi permintaan yang lebih tinggi di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan