Media Kampung – 04 April 2026 | China menggelar pertemuan bilateral antara Pakistan dan Afghanistan di Beijing untuk membahas penghentian permusuhan yang telah berlangsung lama. Kedua negara menandatangani protokol awal mengenai gencatan senjata dan pemulihan jalur perdagangan.
Negosiasi ini diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri China setelah mengamati peningkatan ketegangan di wilayah perbatasan Khyber Pakhtunkhwa dan Afganistan. Pejabat Beijing menegaskan tujuan utama adalah stabilisasi keamanan regional.
Pakistan menekankan kebutuhan akan penghentian serangan lintas batas yang menelan korban sipil. Sementara Afghanistan meminta jaminan agar bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi China menawarkan mediasi netral serta fasilitas logistik untuk pemantauan gencatan senjata. Mereka juga mengusulkan pembentukan zona demiliterisasi sementara di sepanjang perbatasan.
Pihak Pakistan menyambut baik inisiatif China dan berjanji akan menurunkan operasi militer di wilayah rawan. Menteri Luar Negeri Pakistan menuturkan, “Kami menghargai peran China dalam menciptakan ruang dialog yang konstruktif.”
Pemerintah Afghanistan mengonfirmasi komitmen untuk menghormati kesepakatan dan membuka kembali jalur perdagangan yang terputus. Wakil Menteri Luar Negeri Afghanistan menambahkan, “Pemulihan perdagangan akan mengurangi beban ekonomi rakyat kami.”
China menyoroti manfaat ekonomi jangka panjang bagi kedua negara melalui pengurangan biaya logistik dan peningkatan arus barang. Beijing menilai bahwa stabilitas politik akan memperkuat inisiatif Belt and Road di kawasan tersebut.
Analisis para ahli hubungan internasional menilai langkah China sebagai upaya memperluas pengaruhnya di Asia Selatan, mengingat peran tradisional Iran dalam mediasi regional. Mereka mencatat bahwa China berusaha menjadi pemain utama dalam penyelesaian konflik Muslim.
Sejumlah negara tetangga, termasuk India dan Iran, menyatakan dukungan terhadap proses damai tanpa mengkritik peran China. Pernyataan bersama menekankan pentingnya dialog berkelanjutan.
Meskipun ada optimisme, pengamat keamanan mengingatkan bahwa kelompok militan lokal dapat mengganggu implementasi gencatan senjata. Mereka menekankan perlunya mekanisme verifikasi yang kuat.
Pemerintah China berjanji akan menugaskan tim observasi untuk memantau kepatuhan kedua belah pihak selama enam bulan pertama. Tim tersebut akan berkoordinasi dengan otoritas militer masing-masing.
Jika berhasil, kesepakatan ini dapat membuka jalur perdagangan kembali melalui pelabuhan Gwadar dan jalur darat ke Xinjiang, meningkatkan volume ekspor-impor. Dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi regional diharapkan muncul dalam jangka menengah.
Kesepakatan awal ini menandai langkah konkret dalam upaya meredam konflik bersenjata di antara dua negara Muslim, dengan China sebagai mediator utama. Keberlanjutan proses akan menentukan apakah perdamaian dapat terwujud secara permanen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan