Media Kampung – 04 April 2026 | Istri Praka Farizal Romadhon, Fafa Nur Azila, tiba di rumah duka di Ledok, Sidorejo, Lendah, Kulon Progo pada Kamis, 2 April 2026, dan langsung terisak histeris saat melihat ibu kandung almarhum. Momen tersebut menandai kedatangan pertama keluarga inti setelah kabar duka diterima dari Lebanon.

Ia datang bersama anak mereka yang berusia satu tahun setengah, tiba pukul 10.20 WIB setelah menempuh perjalanan dari Aceh. Kedatangan mereka disambut oleh kerabat besar keluarga dari kedua belah pihak, termasuk sanak dari Kebumen, Jawa Tengah.

Kondisi psikologis Fafa dilaporkan berangsur pulih setelah beberapa jam berada di rumah duka. Saudara iparnya, Moh Fitra Abdul Aziz, menyatakan, “Alhamdulillah setelah di sini kondisinya jauh lebih baik daripada saat pertama mendengar kabar duka.”

Sesaat setelah turun dari kendaraan, Fafa bertemu dengan ibu kandung Praka Farizal dan keduanya berpelukan erat. Isak tangis mereka pecah menjadi histeris, menambah suasana haru di antara para pendamping.

Keluarga besar, baik dari pihak istri maupun suami, mengelilingi Fafa untuk memberikan dukungan emosional. Mereka berupaya menjaga agar anak balita tidak terpapar tekanan berlebih selama proses duka.

Saat ini tidak ada rencana bagi keluarga untuk pergi ke Jakarta guna menjemput jenazah di Markas Besar TNI. Mereka menunggu instruksi lebih lanjut dari otoritas militer terkait tata cara upacara kenegaraan sebelum jenazah dipindahkan ke Yogyakarta.

Keluarga menekankan pentingnya percepatan proses repatriasi jenazah Praka Farizal yang telah berada di Lebanon selama lebih dari enam minggu. Mereka berharap pemerintah dapat melobi pihak terkait agar proses pemulangan dapat diselesaikan secepatnya.

Selain masalah logistik, keluarga menuntut investigasi transparan mengenai penyebab gugurnya Praka Farizal bersama dua rekan dalam misi UNIFIL. Mereka meminta kementerian luar negeri dan pertahanan mengajukan permintaan resmi kepada PBB untuk audit independen.

Pihak militer telah menetapkan bahwa almarhum akan dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Wates, Kulon Progo. Lokasi tersebut dipilih sebagai penghormatan atas jasa prajurit yang gugur dalam tugas perdamaian.

Fitra menambahkan, “Semoga prosesnya dipercepat mengingat sudah cukup lama beliau di sana, dan dapat segera dimakamkan di tanah air.” Harapan tersebut didukung oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat yang menilai kecepatan repatriasi sebagai wujud penghargaan negara.

Praka Farizal adalah prajurit yang sebelumnya pernah bertugas di Papua sebelum terpilih dalam seleksi ketat penugasan ke Lebanon. Kejadian ini menambah daftar korban Indonesia dalam operasi penjagaan perdamaian PBB yang menuntut perhatian khusus.

Sementara keluarga menunggu konfirmasi akhir, mereka tetap memfokuskan perhatian pada pemulihan emosional Fafa dan anaknya. Kasus ini menggarisbawahi tantangan repatriasi dan kebutuhan akan keterbukaan penyelidikan dalam misi internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.