Media Kampung – 03 April 2026 | Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan kirab peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Kamis, 2 April 2026, di Yogyakarta. Acara berlanjut dengan festival angkringan gratis yang memusatkan perhatian publik.

Secara resmi 80 gerobak angkringan ditempatkan dari Jalan Malioboro hingga Alun‑Alun Utara, menyajikan total 16.000 porsi nasi kucing serta aneka gorengan dan sate. Semua hidangan diberikan tanpa biaya, menambah semarak perayaan.

Kirab dimulai dari titik Nol Kilometer kota Jogja dan melintasi jalan utama menuju Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Rombongan lurah, pamong, serta perwakilan lembaga kemasyarakatan daerah DIY mengiringi Sultan dengan membawa hadiah hasil bumi masing‑masing.

Salah satu hadiah menonjol adalah gunungan bawang merah seberat satu kuintal dari Kelurahan Canden, Jetis, Bantul, yang dipersembahkan sebagai simbol komoditas unggulan setempat. Bawang merah tersebut diangkat sebagai lambang rasa syukur atas tanah yang dikelola.

Selain hasil pertanian, rombongan juga mengangkut ternak kecil seperti ayam, angsa, dan burung, serta produk UMKM berupa kerajinan dan makanan tradisional. Barang‑barang tersebut dipamerkan dalam kirab sebagai bentuk apresiasi terhadap ekonomi lokal.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir dalam seragam batik cokelat, duduk di samping putri sulung Sultan, GKR Mangkubumi, dan menyimak rangkaian acara dengan khidmat. Kehadiran tokoh kepolisian menegaskan keamanan dan keteraturan selama perayaan.

Sultan bersama Permaisuri GKR Hemas, lima putri, serta menantu tampil mengenakan batik hijau senada dengan kebaya tradisional. Penampilan keluarga kerajaan menambah nuansa kebangsawanan pada acara publik.

Fardi, warga asal Menteng, Jakarta Timur, menyatakan kegembiraannya atas makanan gratis yang disajikan. “Kami sangat senang bisa menikmati nasi kucing, sate, dan kue tanpa biaya, serta mendoakan Sultan selalu sehat,” ujarnya.

Maria, wisatawan asal Meksiko, menilai kirab memiliki kesamaan dengan tradisi di negaranya. “Kami juga memiliki perayaan serupa, sehingga terasa akrab dan mengesankan,” katanya.

Setelah gerobak resmi dibuka, antrean panjang terbentuk, namun warga bergerak cepat mengambil makanan hingga seluruh 16.000 porsi habis dalam waktu singkat. Suasana Malioboro yang biasanya dipadati turis menjadi lebih ramai dengan aroma kuliner angkringan.

Setelah kirab berakhir, hadiah hasil bumi yang dibawa masing‑masing kalurahan dikembalikan ke masyarakat melalui penyerahan simbolik gelondong pangarem‑arem oleh Sultan. Proses ini menegaskan nilai gotong‑royong dan kebersamaan.

Gandang Hardjanata, Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY, mencatat partisipasi sekitar 12.000 peserta dalam kirab. Ia menambahkan bahwa distribusi gelondong akan dilanjutkan melalui Bupati dan Walikota setempat.

Acara ini turut meningkatkan visibilitas UMKM Yogyakarta, karena produk‑produk lokal dipamerkan kepada ribuan pengunjung. Dampak ekonomi jangka pendek terlihat dari peningkatan penjualan dan promosi wisata kuliner.

Pihak kepolisian mengatur lalu lintas di sekitar Malioboro dan Alun‑Alun Utara, memastikan kelancaran arus kendaraan dan pejalan kaki. Penjagaan keamanan melibatkan satuan khusus serta relawan masyarakat.

Dalam sambutannya, Sultan menekankan pentingnya melestarikan budaya dan memperkuat persatuan melalui tradisi kirab serta pemberian hadiah kepada rakyat. Ia berharap perayaan ini menjadi momentum kebahagiaan bersama.

Kirab HUT ke‑80 Sultan HB X berhasil menyatukan warga, pengusaha, dan wisatawan dalam satu perayaan yang meriah, sekaligus menonjolkan kekayaan kuliner serta hasil bumi DIY. Acara selesai dengan harapan kebahagiaan dan kesejahteraan berkelanjutan bagi Yogyakarta.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.