Media Kampung – Perwakilan kru Darmawangsa Wedding Organizer (WO) angkat bicara terkait kasus dugaan penipuan yang menyeret pemiliknya, Suci. Mereka mengaku turut menjadi korban dan menegaskan tidak terlibat dalam pengelolaan keuangan maupun transaksi dengan klien.
Seorang kru bernama Putri menyatakan bahwa seluruh keputusan terkait penerimaan pembayaran dari klien hingga pembayaran kepada vendor sepenuhnya dilakukan oleh owner. “Kami hanya melakukan apa yang beliau instruksikan di dalam pekerjaan, seperti mengundang meeting, mempersiapkan pre-wedding, dan hari H,” ujarnya saat ditemui di Polda Jabar, Senin (8/7).
Putri membantah adanya aliran dana dari klien kepada kru. Uang yang diterima kru hanya berupa honor pekerjaan sebagai tenaga freelance yang kerap kali terlambat dibayar. “Adapun kalau ditemukan aliran dana ke kami, itu hanya berupa upah kami di hari H yang sering kali juga terlambat dilakukan,” katanya.
Meski tidak mengalami kerugian sebesar para calon pengantin dan vendor, para kru mengaku ikut menjadi korban karena masih memiliki tunggakan pembayaran dari pekerjaan yang telah mereka lakukan. Karena itu, mereka memilih membantu proses pengungkapan kasus dengan memberikan keterangan kepada kepolisian dan mendampingi para korban.
Sebelum pemilik WO menghilang, para kru sudah merasakan tanda-tanda masalah, seperti keterlambatan pembayaran honor yang terjadi berulang kali. “Ketika kami kerja hari ini, yang dibayar oleh beliau itu pekerjaan kami bulan lalu,” ungkap Putri.
Para kru juga sempat didatangi sejumlah korban yang mencari keberadaan owner, karena Suci pernah menggunakan rumah orang tua salah satu kru sebagai lokasi pertemuan dengan klien. “Suci ini mengaku rumah orang tua saya yang dia pakai untuk bertemu sebagai rumah dia sendiri. Jadi terjadi banyak sekali kesalahpahaman antara klien dengan kami para kru,” kata Putri.
Kru lainnya, Tita, mengungkapkan komunikasi terakhir dengan pemilik WO terjadi pada Rabu hingga Kamis pekan lalu. Mereka masih membahas persiapan acara dan pembayaran vendor. Namun setelah Kamis sore, nomor telepon Suci tidak dapat dihubungi. “Jam terakhir sekitar jam 3 sore. Setelah itu kami hubungi kembali, ternyata WhatsApp-nya sudah ceklis satu,” katanya.
Malam harinya, para kru mendatangi rumah pemilik WO, tetapi keluarga mengaku tidak mengetahui keberadaan Suci. Para kru berharap laporan yang diajukan korban segera diproses agar Suci dapat ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Harapan kami Suci segera ditemukan agar bisa mempertanggungjawabkan kasus ini sendiri. Karena kami para kru yang sejatinya hanya bekerja kepada dia malah ikut terbawa karena kelakuan dia sendiri,” pungkas Putri.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan