Media Kampung – 05 April 2026 | Seorang aktivis lingkungan menjadi korban serangan fisik setelah disiram air keras oleh orang tak dikenal, mengakibatkan luka bakar serius pada beberapa bagian tubuhnya.
Insiden terjadi pada sore hari di sebuah wilayah perkotaan, di mana pelaku tidak teridentifikasi dan melarikan diri sebelum aparat tiba.
Korban, yang diketahui aktif dalam kampanye perlindungan hutan, dilarikan ke rumah sakit setempat dan menjalani perawatan intensif.
Perwakilan organisasi Lingkaran Sarbunusi, Iwan Sarbunusi, menyatakan, “Kritik tidak boleh dijawab dengan kekerasan, dan kami menuntut penyelidikan menyeluruh.”
Polisi setempat membuka penyelidikan, menyebut kasus ini sebagai bentuk kekerasan terhadap aktivis dan menjanjikan penegakan hukum.
Kasus ini menambah deretan serangan terhadap aktivis lingkungan di Indonesia selama beberapa bulan terakhir.
Data Lembaga Hak Asasi Manusia mencatat lebih dari dua puluh insiden serupa sejak awal tahun, termasuk penganiayaan, intimidasi, dan pembakaran properti.
Amnesty International menilai pola tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasan sipil dan menuntut pemerintah meningkatkan perlindungan.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Hukum dan HAM menegaskan komitmen untuk menjamin hak kebebasan berpendapat dan menindak tegas pelaku kekerasan.
Kasus serupa pernah terjadi pada aktivis penolak tambang batu bara di Sumatra pada bulan Januari, yang juga berujung pada luka bakar.
Serangkaian aksi intimidasi tersebut menimbulkan rasa khawatir di kalangan organisasi lingkungan, yang menganggap kebebasan beraktivitas terancam.
Warga setempat menyatakan solidaritas dengan korban, mengadakan aksi damai di depan rumah sakit tempat korban dirawat.
Penyelidikan polisi masih dalam tahap pengumpulan bukti, termasuk rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Berbagai organisasi masyarakat sipil menyerukan proses hukum yang transparan dan cepat, serta perlindungan bagi aktivis yang menjadi target.
Jika terbukti, pelaku dapat dijerat dengan pasal kekerasan terhadap penyelenggara kegiatan publik sesuai KUHP.
Kasus ini menarik perhatian media internasional, yang menyoroti tantangan keamanan bagi aktivis lingkungan di negara berkembang.
Pengamat menilai bahwa peningkatan keamanan dan penegakan hukum yang konsisten dapat menurunkan risiko serangan serupa di masa depan.
Namun, hingga kini belum ada saksi yang mengidentifikasi pelaku secara pasti, menambah kompleksitas penyelidikan.
Komunitas aktivis berharap kejadian ini menjadi titik balik untuk memperkuat jaringan perlindungan dan solidaritas.
Kasus ini menggarisbawahi pentingnya penegakan hukum yang adil agar kritik lingkungan dapat disampaikan tanpa ancaman kekerasan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan