Media Kampung – 05 April 2026 | Seorang pria bernama Dadang, pemilik jasa penyewaan perlengkapan hajatan, ditemukan tewas setelah dikeroyok sekelompok preman pada Sabtu malam di Purwakarta.
Insiden terjadi saat korban menolak permintaan uang tambahan dari kelompok tersebut, yang mengaku menginginkan bagian dari pemasukan acara pernikahan yang sedang berlangsung.
Korban jatuh tak sadarkan diri di lokasi, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Purwakarta namun dinyatakan meninggal dunia sesegera mungkin.
Polisi setempat segera melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti seperti sepatu dan pakaian yang diduga milik pelaku.
Tim forensik menemukan bekas luka memar pada dada dan lengan korban, yang konsisten dengan serangan berulang.
Kepala Bidang Reserse Kriminal Polres Purwakarta, Kombes Pol. Budi Santoso, menyatakan penyelidikan masih dalam tahap awal.
“Kami telah mengamankan saksi dan merekam video pengakuan beberapa tersangka,” ujarnya dalam konferensi pers singkat di kantor polisi.
Saksi pertama, seorang tamu pernikahan, melaporkan bahwa preman datang bersama dua orang pengawal, menuntut “jatah” uang dari penyelenggara.
Ketika Dadang menolak, preman tersebut langsung mengeluarkan pemukul kayu dan memukul korban berulang kali.
Beberapa tamu lain berusaha melerai, namun mereka juga diserang, sehingga kerusuhan meluas di area ballroom.
Pihak keamanan venue tidak memiliki petugas khusus, sehingga kontrol keamanan terganggu saat keributan berlangsung.
Kejadian ini memicu kepanikan di antara para tamu, yang sebagian besar melarikan diri menuju pintu darurat.
Akibat kerusuhan, sebagian peralatan hajatan rusak, termasuk tenda dan sound system yang dipinjam oleh pihak penyelenggara.
Polisi mengumpulkan rekaman CCTV dari dalam dan luar gedung, serta meminta bantuan masyarakat untuk mengidentifikasi wajah pelaku.
Hingga saat ini, tiga orang tersangka telah ditangkap, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.
Identitas tersangka pertama, bernama Agus (30), diketahui memiliki catatan kriminal sebelumnya terkait pemerasan.
Sementara dua tersangka lainnya, yang belum diungkap nama lengkapnya, diduga berafiliasi dengan jaringan preman lokal.
Penyidik menilai motif utama serangan adalah tuntutan uang “jatah” yang biasanya diminta oleh kelompok kriminal pada acara publik.
Praktik semacam ini telah lama menjadi masalah di wilayah Jawa Barat, terutama pada pernikahan dan hajatan yang melibatkan banyak uang.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta berjanji meningkatkan kehadiran petugas keamanan pada acara massal, serta meninjau regulasi penyewaan perlengkapan hajatan.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dalam pernyataan tertulis, menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat keamanan dan masyarakat untuk mencegah kejadian serupa.
Sementara itu, keluarga korban menolak komentar publik dan meminta proses hukum berjalan cepat serta keadilan bagi almarhum.
Organisasi kepolisian setempat menegaskan tidak akan mentolerir tindakan kekerasan terhadap penyelenggara acara, dan menambah patroli di wilayah rawan.
Kasus ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha hajatan untuk meningkatkan keamanan serta waspada terhadap ancaman preman yang menuntut bagian keuntungan.
Kejadian serupa sebelumnya pernah terjadi di kota lain, namun belum ada penyelesaian yang memuaskan bagi korban.
Dengan penyelidikan yang terus berlanjut, harapan publik adalah agar para pelaku dapat ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Artikel ini akan terus diperbarui seiring perkembangan penyelidikan dan hasil otopsi resmi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan