Media Kampung – 05 April 2026 | Yogyakarta – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menegaskan pentingnya silaturahmi tatap muka dalam rangka meningkatkan kesehatan dan memperpanjang usia.

Pernyataan itu disampaikan pada acara Halal Bi Halal dan pelepasan calon jamaah haji Universitas Islam Indonesia 1447 H.

Narasumber menambahkan bahwa interaksi langsung dapat menstimulus produksi hormon kebahagiaan dan menurunkan stres.

Dr. Agus menjelaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan formal, melainkan kontak visual, percakapan, dan sentuhan yang memperkuat ikatan emosional.

Penelitian ilmu kedokteran menunjukkan bahwa orang yang rutin bertemu keluarga atau teman memiliki tekanan darah lebih stabil.

Data dari Kementerian Kesehatan mengindikasikan penurunan risiko penyakit kardiovaskular pada individu dengan jaringan sosial yang luas.

Hal ini sejalan dengan temuan bahwa dukungan sosial meningkatkan kepatuhan terhadap pola hidup sehat.

Dalam konteks pandemi, dr. Agus mengingatkan bahwa pertemuan fisik harus tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan memakai masker bila diperlukan.

Ia menekankan bahwa manfaat psikologis silsilah tidak boleh diabaikan meski risiko infeksi masih ada.

Acara Halal Bi Halal tahun ini menampilkan serangkaian kegiatan yang memfasilitasi interaksi langsung antara mahasiswa, staf, dan keluarga besar UI.

Kegiatan tersebut meliputi doa bersama, tausiyah, serta sesi tanya jawab yang memperkuat rasa kebersamaan.

Sebagai contoh, kelompok alumni yang rutin mengadakan pertemuan bulanan melaporkan peningkatan kualitas tidur dan penurunan gejala depresi.

Mereka mengaitkan perubahan tersebut dengan rasa memiliki yang diperoleh lewat silaturahmi.

Para ahli gizi menambahkan bahwa pertemuan makan bersama dapat meningkatkan asupan nutrisi karena berbagi makanan sehat lebih mudah dilakukan dalam kelompok.

Selain itu, interaksi sosial memicu kebiasaan makan teratur dan mengurangi pola makan berlebih.

Dr. Agus mengutip pandangan ulama bahwa silaturahmi merupakan ibadah yang mendatangkan pahala serta manfaat duniawi.

Ia menegaskan bahwa nilai spiritual ini berkontribusi pada kesejahteraan mental yang esensial bagi kesehatan fisik.

Kegiatan silaturahmi juga dianggap sebagai sarana edukasi kesehatan, di mana informasi tentang vaksin, pola hidup, dan pencegahan penyakit dapat disebarkan secara informal.

Pendekatan personal ini terbukti lebih efektif dibandingkan kampanye massal yang bersifat satu arah.

Sebuah survei internal Muhammadiyah menunjukkan 78 persen peserta acara Halal Bi Halal merasa lebih termotivasi untuk menjalankan gaya hidup sehat setelah berinteraksi langsung.

Angka tersebut menegaskan korelasi positif antara kehadiran fisik dan perubahan perilaku.

Meskipun teknologi digital memudahkan komunikasi, dr. Agus menekankan bahwa kehangatan tatap muka tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh video call.

Kehadiran fisik memungkinkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan energi positif yang sulit diukur secara virtual.

Masyarakat di daerah pedesaan Yogyakarta juga diimbau untuk memanfaatkan pertemuan komunitas, seperti gotong royong dan pertemuan pekan, sebagai wadah silaturahmi.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga meningkatkan aktivitas fisik melalui kerja bersama.

Sejumlah peneliti universitas menyoroti bahwa kualitas hubungan sosial memiliki efek jangka panjang pada harapan hidup, bahkan dapat menambah beberapa tahun usia harapan hidup.

Mereka mencatat bahwa faktor psikologis berperan signifikan dalam regulasi sistem imun.

Dengan mengintegrasikan nilai silaturahmi ke dalam kebijakan kesehatan publik, pemerintah dapat memperluas jaringan dukungan sosial yang berkontribusi pada pencegahan penyakit tidak menular.

Pendekatan holistik ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menekankan kesejahteraan masyarakat.

Dr. Agus menutup pidatonya dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan pertemuan langsung sebagai bagian rutin dalam agenda harian.

Ia berharap generasi muda dapat melestarikan tradisi silaturahmi sebagai warisan budaya yang mendukung kesehatan.

Dengan demikian, silaturahmi tatap muka tidak hanya menjadi sarana keagamaan, melainkan juga strategi praktis untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang usia.

Implementasinya diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih sehat, bahagia, dan produktif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.