Media Kampung – 05 April 2026 | Psikolog klinis Dr. Andi Suryani menyoroti meningkatnya kasus post holiday syndrome setelah Lebaran, terutama pada pekerja dan pelajar.
Kondisi ini ditandai dengan penurunan motivasi, kebingungan kembali ke ritme harian, serta rasa lelah mental yang tidak wajar.
Ia menjelaskan bahwa perubahan drastis antara suasana libur yang santai dan tuntutan pekerjaan yang intens memicu stres psikologis.
Adaptasi bertahap menjadi langkah pertama yang disarankan untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
Dr. Andi menyarankan agar individu mengatur kembali jadwal tidur secara perlahan, misalnya menyesuaikan waktu bangun 15 menit lebih awal setiap hari.
Hal ini membantu tubuh menyesuaikan sirkadian tanpa mengalami kelelahan berlebih.
Selain tidur, pola makan juga perlu diatur ulang, terutama mengurangi makanan berat yang biasanya dikonsumsi saat libur.
Makanan ringan kaya serat dan protein dapat menjaga energi tetap stabil selama transisi.
Olahraga ringan menjadi faktor penting; aktivitas seperti berjalan kaki selama 30 menit dapat meningkatkan produksi endorfin.
Endorfin berperan mengurangi rasa cemas dan memperbaiki suasana hati secara alami.
Dr. Andi menekankan pentingnya menetapkan tujuan harian yang realistis, bukan langsung menuntut performa maksimal.
Tujuan kecil seperti menyelesaikan satu tugas utama dapat memberikan rasa pencapaian tanpa menambah beban.
Pencatatan progres harian dalam jurnal membantu memvisualisasikan kemajuan dan mengidentifikasi pola stres.
Jurnal juga berfungsi sebagai sarana refleksi diri untuk memahami pemicu emosional.
Jika memungkinkan, individu dapat mengalokasikan waktu istirahat singkat di tengah hari, misalnya 5-10 menit meditasi atau pernapasan dalam.
Teknik pernapasan diafragma terbukti menurunkan kadar kortisol, hormon stres utama.
Dr. Andi menambahkan bahwa interaksi sosial yang positif dapat mempercepat proses penyesuaian.
Berbagi pengalaman dengan keluarga atau teman dekat menciptakan dukungan emosional yang penting.
Namun, ia memperingatkan agar tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang dapat memperparah perasaan tidak cukup.
Penting juga untuk membatasi paparan media sosial, terutama konten yang menonjolkan kebahagiaan liburan orang lain.
Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan rasa iri dan menurunkan kesejahteraan mental.
Jika gejala post holiday syndrome berlanjut lebih dari dua minggu, Dr. Andi menyarankan konsultasi profesional.
Terapi kognitif‑behavioral (CBT) dapat membantu mengidentifikasi pola pikir negatif dan menggantinya dengan pola yang lebih konstruktif.
Selain itu, teknik mindfulness dapat meningkatkan kesadaran diri dan mengurangi reaktivitas emosional.
Beberapa perusahaan kini menyediakan program kesejahteraan karyawan yang mencakup sesi konseling singkat setelah periode libur.
Implementasi kebijakan semacam ini dapat menurunkan tingkat absensi dan meningkatkan produktivitas.
Di tingkat pendidikan, sekolah dan universitas juga dapat mengatur kembali jadwal kuliah agar tidak langsung kembali ke beban akademik penuh.
Penyesuaian ini memberi mahasiswa ruang untuk menyesuaikan diri secara mental.
Data awal dari survei internal sebuah perusahaan menunjukkan penurunan 20 persen tingkat stres setelah menerapkan rekomendasi psikolog.
Hasil tersebut menguatkan pentingnya pendekatan holistik dalam mengatasi post holiday syndrome.
Dr. Andi menutup dengan mengingatkan bahwa kesehatan mental setara pentingnya dengan kesehatan fisik.
Ia mengajak masyarakat untuk memprioritaskan rutinitas sehat, mengelola ekspektasi, dan tidak ragu mencari bantuan bila diperlukan.
Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, individu dapat kembali produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan