Media Kampung – 05 April 2026 | Enam puluh siswa dari beberapa sekolah dasar di Jakarta Timur melaporkan gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis pada hari Senin.
Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, dan diare, sehingga pihak sekolah mengirimkan anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat.
Tim medis dari RSUD Jakarta Timur mencatat bahwa mayoritas kasus terdiagnosa mengalami gastroenteritis akibat kontaminasi makanan.
Investigasi awal mengidentifikasi Dapur Pondok Kelapa 2, yang dikelola oleh Badan Gosok Nutrisi (BGN), sebagai sumber penyediaan makanan tersebut.
BGN menyatakan program makanan gratis bertujuan meningkatkan gizi siswa di wilayah berpendapatan rendah.
Namun, setelah pemeriksaan laboratorium, sampel makanan mengandung bakteri Salmonella dan Staphylococcus aureus.
Pihak berwenang Dinas Kesehatan DKI Jakarta memerintahkan penghentian sementara operasi Dapur Pondok Kelapa 2.
Inspektur Kesehatan Daerah (Inspektorat Kesehatan DKI) menegaskan bahwa semua dapur yang terlibat program serupa akan menjalani audit intensif.
Direktur BGN, Budi Santoso, mengeluarkan pernyataan resmi pada siang hari yang sama.
“Kami sangat menyesal atas kejadian ini dan berkomitmen untuk memperbaiki prosedur keamanan pangan,” ujar Budi dalam konferensi pers virtual.
Ia menambahkan bahwa BGN akan menutup Dapur Pondok Kelapa 2 hingga hasil audit lengkap diterbitkan.
Sejumlah orang tua siswa menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak penyelenggara program.
“Anak kami tidak seharusnya menderita seperti ini karena program yang seharusnya membantu,” ujar seorang ibu yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pihak sekolah setempat juga mengumumkan bahwa sementara waktu mereka tidak akan melanjutkan program makanan gratis dari BGN.
Komite Sekolah Menengah pertama (KSM) di wilayah tersebut menyarankan penggunaan katering alternatif yang telah terakreditasi.
Komisi Pangan Nasional (KPN) telah mengirim tim investigatif ke lokasi dapur untuk mengumpulkan bukti lebih lanjut.
Hasil sementara menunjukkan bahwa prosedur penyimpanan bahan baku tidak memenuhi standar suhu yang ditetapkan.
Selain itu, catatan kebersihan dapur belum diperbaharui selama tiga bulan terakhir.
Pengawas kebersihan lingkungan (PKE) DKI Jakarta menegaskan bahwa pelanggaran ini dapat dikenai sanksi administratif hingga pencabutan izin operasional.
Kasus ini menambah deretan insiden makanan tidak aman di sekolah-sekolah kota yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Para ahli gizi menilai bahwa program makanan gratis tetap penting, namun harus didukung oleh kontrol kualitas yang ketat.
“Kita tidak boleh mengorbankan kesehatan demi niat baik,” kata Dr. Siti Nurhaliza, pakar gizi dari Universitas Indonesia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji akan meningkatkan pengawasan terhadap semua program pangan sekolah.
Di akhir pekan, BGN mengumumkan rencana revisi manual operasional dan pelatihan ulang bagi seluruh staf dapur.
Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Dengan penutupan Dapur Pondok Kelapa 2, pihak berwenang berharap kasus keracunan pada siswa dapat berkurang secara signifikan.
Kondisi siswa yang telah menerima perawatan menunjukkan perbaikan, dan sebagian besar diperkirakan akan pulih dalam beberapa hari ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan