Mengurangi lemak trans dan gula olahan selama Ramadhan disebut dapat membantu tubuh menjadi lebih bugar. Hal itu disampaikan oleh dr. Zaidul Akbar yang menilai puasa dapat menjadi momentum pemulihan alami tubuh, asalkan pola makan tetap terjaga.
Dalam penjelasannya yang dikutip pada Kamis (19/02/2026), dr. Zaidul menyebut puasa memiliki sejumlah manfaat kesehatan, mulai dari membantu proses detoksifikasi alami, meningkatkan performa otak, mendukung pembentukan massa otot bila disertai aktivitas fisik, hingga memperkuat sistem imun. Namun, ia mengingatkan manfaat tersebut tidak akan optimal bila asupan makanan saat sahur dan berbuka tidak terkontrol.
Ia menyoroti dua bahan yang sebaiknya dibatasi selama bulan puasa, yakni lemak trans dan gula olahan. Lemak trans umumnya terdapat pada makanan yang digoreng dengan minyak berulang kali, margarin, makanan cepat saji, serta camilan kemasan. Sementara gula olahan banyak ditemukan pada gula pasir, minuman manis instan, aneka kue berbahan tepung, serta produk berbasis terigu.
Menurutnya, dengan mengurangi dua komponen tersebut, tubuh memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan regenerasi sel secara alami. Ia menjelaskan bahwa pembatasan lemak trans dan gula olahan dapat membantu tubuh membersihkan patogen serta memperbaiki keseimbangan mikrobioma, khususnya di saluran pencernaan.
Kondisi pencernaan yang lebih sehat, lanjutnya, akan berdampak pada hubungan usus dan otak yang saling terhubung dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, pengaturan komposisi makanan saat berbuka dan sahur menjadi kunci.
Bagi yang ingin meningkatkan sensitivitas insulin selama Ramadhan, ia menyarankan agar konsumsi gula dan karbohidrat olahan ditekan. Dalam satu piring makan, komposisi ideal menurutnya lebih banyak berisi sayuran dan protein, sementara karbohidrat tetap dikonsumsi dalam porsi yang tidak berlebihan.
Ia juga mengingatkan bahwa sumber rasa manis yang lebih alami dapat menjadi pilihan, seperti kurma, sebagaimana dicontohkan dalam ajaran Islam. Meski demikian, konsumsi tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan.
Sebagai langkah praktis, ia menganjurkan penghentian penggunaan gula pasir selama Ramadhan dan menggantinya dengan pemanis alami seperti madu atau sumber gula alami lain yang lebih kaya serat. Produk berbasis terigu pun disarankan untuk dikurangi karena termasuk dalam kategori gula olahan.
Apabila pola makan tersebut dijalankan secara konsisten sepanjang bulan puasa, perubahan positif seperti berat badan yang lebih terkontrol, energi meningkat, serta tubuh terasa lebih ringan disebut mulai terasa menjelang akhir Ramadhan.









Tinggalkan Balasan