Penurunan hormon testosteron dinilai berperan penting terhadap meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular pada pria. Data World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD) mencatat sebanyak 19,8 juta orang meninggal dunia akibat penyakit kardiovaskular (CVD) sepanjang 2022, atau sekitar 32 persen dari total kematian global. Mayoritas kematian tersebut disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Founder Klinik Pratama Steros, dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), menjelaskan bahwa rendahnya kadar testosteron dapat memicu berbagai gangguan metabolik yang berujung pada CVD. Testosteron tidak hanya berperan dalam fungsi reproduksi pria, tetapi juga memengaruhi metabolisme lemak, gula darah, hingga sistem kardiovaskular.
Menurut dr. Ivonne, kadar testosteron yang menurun dapat meningkatkan lemak visceral, memicu gangguan kolesterol dan gula darah, meningkatkan tekanan darah, serta menyebabkan inflamasi kronis yang menjadi faktor risiko penyakit jantung. Penjelasan tersebut disampaikannya dalam acara peresmian Klinik Pratama Steros di kawasan Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (15/01/2026).
Sementara itu, Androlog dan Seksolog Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, mengungkapkan bahwa perubahan kadar hormon sebenarnya sudah dimulai sejak usia relatif muda. Ia menegaskan bahwa proses penuaan lebih dipengaruhi oleh penurunan hormon, bukan semata pertambahan usia kalender.
Prof. Wimpie menjelaskan adanya perbedaan antara usia kronologis dan usia fisiologis. Usia kronologis merujuk pada umur berdasarkan tahun kelahiran, sementara usia fisiologis berkaitan dengan fungsi sistem organ tubuh yang sangat dipengaruhi oleh keseimbangan hormon.
Secara medis, proses penuaan dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup penurunan atau ketidakseimbangan hormon, radikal bebas, glikasi, metilasi, apoptosis, gangguan sistem imun, kerusakan DNA, hingga faktor genetik. Adapun faktor eksternal meliputi pola hidup dan pola makan tidak sehat, kebiasaan buruk, paparan polusi, serta stres berkepanjangan.
Penurunan hormon terjadi secara bertahap dalam beberapa fase. Fase subklinis berlangsung pada usia 25–35 tahun ketika hormon mulai berkurang. Fase transisi terjadi pada usia 35–45 tahun dengan penurunan hormon sekitar 25 persen. Sementara fase klinis dialami setelah usia 45 tahun, ketika penurunan hormon berlangsung lebih signifikan.
Keluhan akibat rendahnya testosteron dikenal sebagai Testosterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada pria usia lanjut, kondisi ini juga disebut Androgen Deficiency in Aging Male (ADAM), Partial Androgen Deficiency in Aging Male (PADAM), atau Late-Onset Hypogonadism (LOH).
Prof. Wimpie menyebutkan sejumlah gejala penurunan testosteron, antara lain penurunan libido, gangguan ereksi, berkurangnya massa otot, peningkatan lemak tubuh, kelelahan, rambut rontok, penurunan produksi sperma, penyusutan ukuran testis, perubahan suasana hati, kesulitan konsentrasi, gangguan tidur, hingga tulang menjadi rapuh. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas hidup melalui keluhan seperti kelelahan kronis, depresi, rasa panas, serta keringat berlebih pada malam hari.
Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan pria, layanan kesehatan kini tidak lagi terbatas pada isu performa seksual. Kesehatan pria dipandang sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang mencakup keseimbangan fisik, mental, dan sosial.
Steros Men’s Health & Anti-Aging Clinic hadir sebagai pelopor layanan kesehatan dan anti-aging pria dengan pendekatan medis yang personal dan preventif. Klinik ini menitikberatkan pada upaya menjaga kualitas hidup pria sejak usia produktif hingga lanjut usia.
Dalam peresmiannya, dr. Ivonne menyampaikan bahwa layanan tersebut dirancang tidak hanya untuk membantu pria mempertahankan kondisi kesehatan optimal, tetapi juga memperkuat kualitas hubungan dengan pasangan agar tercipta kehidupan yang lebih sehat, harmonis, dan berkelanjutan. (balqis)


















Tinggalkan Balasan