Kementerian Kesehatan merilis daftar penyakit yang paling banyak dialami para pengungsi dan warga terdampak banjir besar serta longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data sementara dihimpun dari sejumlah dinas kesehatan daerah per Senin (1/12/2025), namun Kemenkes mengingatkan bahwa jumlah kasus itu masih dapat berkembang karena akses ke beberapa wilayah masih terhambat.

Perwakilan Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Mulawarman, menyampaikan bahwa pengendalian penyakit di area pengungsian kini menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menekankan bahwa kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pasien cuci darah harus menjadi perhatian serius dalam penanganan kesehatan pascabencana.

Daftar penyakit yang muncul di setiap wilayah juga menunjukkan pola gangguan kesehatan khas situasi pengungsian. Di Aceh, kasus luka-luka menjadi yang tertinggi dengan 35 orang, disusul ISPA sebanyak 15 orang dan diare enam orang. Sementara di Sumatera Utara, demam mendominasi dengan 277 kasus, lalu myalgia 151 kasus, gatal-gatal 150 kasus, ISPA 96 kasus, dispepsia 94 kasus, hipertensi 75 kasus, serta beberapa kasus luka-luka, sakit kepala, diare, dan asma.

Kondisi di Sumatera Barat pun menunjukkan pola serupa. Demam menjadi keluhan yang paling banyak dilaporkan dengan 376 kasus, diikuti myalgia 201 kasus, gatal-gatal 120 kasus serta sejumlah keluhan lain termasuk dispepsia, ISPA, hipertensi, dan masing-masing 40 kasus diare dan asma.

Kemenkes terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan suplai logistik kesehatan, tenaga medis, serta pengawasan penyakit berjalan lancar. Pemerintah juga mendorong peningkatan layanan di posko kesehatan agar pengungsi mendapat penanganan cepat dan tepat, terutama untuk mencegah wabah pascabencana. (putri).