Media Kampung – Ilustrasi serangan siber. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengingatkan akan ancaman dari teknologi komputasi kuantum yang dapat membobol sistem enkripsi dan mengancam keamanan data digital. Teknologi ini diperkirakan mampu menguraikan perlindungan kriptografi dengan jauh lebih cepat dibandingkan komputer klasik.
Peningkatan Kesiapan Keamanan Siber
Wakil Kepala BSSN, Komjen Pol. Albertus Rachmad Wibowo, menjelaskan bahwa perkembangan komputasi kuantum menuntut Indonesia untuk meningkatkan kesiapan dalam keamanan siber. Dia menekankan bahwa sistem kriptografi yang saat ini digunakan untuk melindungi data dan menghadapi serangan hacker akan menghadapi tantangan baru seiring dengan kemajuan teknologi ini.
Perbandingan Waktu Pemecahan Enkripsi
Albertus menyampaikan bahwa komputer klasik memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memecahkan enkripsi tertentu. Namun, dengan komputasi kuantum, waktu tersebut dapat dipangkas secara signifikan, bahkan hingga hitungan jam, tergantung pada jenis enkripsi yang digunakan.
Risiko Komersialisasi Komputasi Kuantum
Albertus juga mengingatkan tentang persaingan negara-negara lain dalam mengembangkan teknologi komputasi kuantum. Dia mencatat bahwa pengembangan yang berlangsung secara tertutup berpotensi disalahgunakan untuk melancarkan serangan siber. Risiko ini semakin meningkat ketika komputasi kuantum mulai dikomersialisasikan dan ditawarkan sebagai layanan.
Strategi Pencurian Data
Ancaman yang perlu diwaspadai adalah strategi yang dikenal sebagai harvest now, decrypt later (HNDL), di mana hacker mencuri dan menyimpan data terenkripsi, kemudian menunggu hingga teknologi komputasi kuantum mampu menguraikan enkripsi tersebut. Dengan cara ini, pencurian data dapat terjadi jauh sebelum peretas dapat membaca informasi yang mereka kumpulkan.
Albertus menjelaskan, “Mereka melakukan exfiltration dari satu tempat ke tempat mereka. Kemudian nanti, ketika quantum computing sudah ada, mereka akan men-decrypt itu. Jadi, mereka harvest sekarang, decrypt later.” Ancaman ini menunjukkan pentingnya memperkuat sistem enkripsi agar tetap aman di masa depan.













