Media Kampung – 11 April 2026 | Dua tanker milik Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di perairan Teluk Persia sejak awal April 2026.

Kapal‑kapal tersebut belum dapat melintasi Selat Hormuz meski gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah diumumkan pada 7 April.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menjelaskan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak normal dan memerlukan serangkaian protokol khusus.

Menurutnya, setiap kapal komersial yang ingin lewat harus melalui proses negosiasi dengan otoritas keamanan Iran.

Boroujerdi menambahkan bahwa protokol tersebut ditetapkan oleh penjaga keamanan Republik Islam Iran dan harus dipatuhi oleh semua pihak.

Ia tidak merinci jenis protokol yang harus dipenuhi oleh Pertamina, namun menegaskan bahwa negosiasi masih berlangsung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengakui kesulitan evakuasi tanker yang tertahan karena kondisi geopolitik yang bergejolak.

Bahlil menyatakan bahwa pemerintah Indonesia terus melakukan komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

“Kami masih berkoordinasi, meski tidak mudah, untuk menemukan cara mengeluarkan kapal kami,” ujar Bahlil dalam rapat Kemenko Perekonomian pada 27 Maret.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Iran telah memberi lampu hijau bagi kedua tanker untuk melintasi Selat Hormuz.

Juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, menegaskan koordinasi antara Kedutaan Iran di Teheran, KBRI Tehran, dan Pertamina terus berjalan.

Menurutnya, persiapan teknis seperti asuransi dan kesiapan kru diperlukan sebelum perlintasan dapat dilaksanakan.

Namun Yvonne tidak memberikan jadwal pasti kapan tanker tersebut akan meninggalkan zona konflik.

Laporan BBC pada 10 April mencatat bahwa meski ada gencatan senjata, Selat Hormuz tetap dibatasi untuk lalu lintas kapal.

Kapal yang mencoba melintasi tanpa izin mendapat peringatan akan dibidik dan dihancurkan oleh pihak Iran.

Hanya beberapa kapal yang berhasil melewati selat dalam tiga hari terakhir.

Data dari situs pelacakan Vessel Finder pada 11 April menunjukkan bahwa kedua tanker Pertamina masih berada di Teluk Persia dan tidak bergerak.

Sebelumnya, Gamsunoro sempat berlabuh di Dubai sebelum kembali terperangkap di wilayah tersebut.

Iran mengklaim bahwa protokol keamanan termasuk pengecekan dokumen, koordinasi militer, dan verifikasi muatan.

Pihak militer Iran menambahkan bahwa zona perairan masih dipantau dengan radar dan patroli udara.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel tetap menuntut kepastian keamanan bagi kapal dagang yang melintas.

Iran menolak membuka selat secara penuh hingga semua ranjau laut yang dipasang selama konflik dapat dibersihkan.

Upaya pembersihan ranjau laut dinilai memakan waktu lama karena keterbatasan teknologi kedua belah pihak.

Kedutaan Besar Iran di Jakarta menegaskan bahwa negosiasi harus mencakup semua negara yang kapalannya terjebak, tanpa kecuali.

Pihak Pertamina belum mengumumkan langkah operasional selanjutnya terkait penanganan tanker yang tertahan.

Pemerintah Indonesia berharap agar protokol dapat dipercepat demi menjaga kelancaran pasokan minyak nasional.

Ketidakpastian ini berpotensi menambah tekanan pada pasar energi regional, mengingat peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama transportasi minyak.

Analis energi mencatat bahwa penundaan pergerakan tanker dapat memicu kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.

Semua pihak menunggu hasil akhir negosiasi sebelum kapal dapat berlayar ke arah pelabuhan Indonesia.

Hingga saat ini, dua tanker Pertamina tetap berada di zona konflik dan belum dapat melanjutkan perjalanan ke tanah air.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.