Media Kampung – 11 April 2026 | IRGC mengumumkan peluncuran gelombang serangan rudal ke-100 pada hari Kamis, menandai eskalasi militer terbaru dari Tehran yang menambah tekanan pada wilayah sekitarnya. Serangan itu dilakukan bersamaan dengan upacara mengenang almarhum pemimpin senior Hizbullah.

Menurut laporan intelijen Amerika Serikat, Iran masih menyimpan ribuan rudal balistik berbagai tipe jarak menengah dan pendek dalam gudang bawah tanah strategis. Sistem peluncur yang tersisa dapat digali kembali atau diperbaiki untuk digunakan kembali.

Pejabat militer AS menilai bahwa lebih dari separuh peluncur Iran telah hancur atau terkubur, namun sebagian besar masih dapat dipulihkan meski berada di zona konflik. Hal ini memungkinkan Teheran menambah kapasitas tembakan meski dalam kondisi terbatas.

Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth menyatakan program rudal Iran secara fungsional terdampak, namun tidak menutup kemungkinan pemulihan sebagian kekuatan. Ia menekankan bahwa serangan AS dan sekutu telah mengurangi efektivitas arsenal tersebut secara signifikan.

Mantan analis CIA Kenneth Pollack menambahkan bahwa Iran telah menunjukkan kemampuan inovatif dalam mempercepat pembangunan kembali senjata. “Mereka adalah lawan yang jauh lebih tangguh daripada kebanyakan militer Timur Tengah,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan bahwa Iran kini memiliki kurang dari setengah stok drone serang satu arah, karena penggunaan intensif selama konflik. Produksi drone juga terganggu oleh serangan udara yang menargetkan fasilitas pabrik.

Meski demikian, Amerika Serikat memperkirakan Tehran dapat memperoleh sistem serupa dari Rusia untuk melengkapi persenjataan. Penjualan potensial tersebut dapat memperluas jangkauan serangan terhadap pasukan AS di kawasan Teluk Persia.

Gelombang ke-41 yang diluncurkan pada Maret lalu menargetkan aset Israel dan Amerika Serikat di Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait. Serangan itu menurunkan jumlah rudal yang tersedia hampir setengahnya, namun tidak menghentikan kemampuan Iran untuk meluncur kembali.

Pengamat militer mencatat bahwa Iran masih menyimpan sejumlah kecil rudal jelajah yang dapat diarahkan ke kapal di Teluk Persia. Kemampuan ini menjadi faktor penting dalam negosiasi gencatan senjata yang tengah dibahas.

Pemerintah AS berupaya menjaga jalur perdagangan di Selat Hormuz tetap terbuka sambil menyiapkan langkah-langkah pencegahan serangan lanjutan. Upaya tersebut mencakup peningkatan pertahanan rudal di wilayah strategis.

Dalam upacara peringatan, IRGC menegaskan komitmen untuk melanjutkan dukungan terhadap Hizbullah serta menolak tekanan internasional. Mereka menyebutkan bahwa serangan rudal terbaru merupakan bentuk balasan atas serangan terhadap jaringan pertahanan Iran.

Komunitas internasional menanggapi dengan keprihatinan, menyebutkan risiko eskalasi lebih lanjut di tengah upaya diplomatik. Beberapa negara menyoroti pentingnya menahan provokasi untuk menghindari konflik meluas.

Sementara itu, analisis intelijen menegaskan bahwa kemampuan Iran untuk mengakses silo bawah tanah memberi mereka keunggulan tersembunyi. Penggalian kembali peluncur dapat dilakukan dalam waktu singkat bila situasi politik memaksa.

Pihak keamanan Iran melaporkan bahwa mereka telah menyiapkan sistem pertahanan anti-misil untuk melindungi wilayahnya dari serangan balasan. Sistem tersebut dikatakan terintegrasi dengan radar terbaru yang dibeli dari Rusia.

Pada akhir pernyataan resmi, IRGC menekankan bahwa Iran tetap bertekad mempertahankan kedaulatan dan melanjutkan perjuangan bersama sekutu. Mereka menutup upacara dengan doa untuk almarhum pemimpin Hizbullah.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa meskipun persediaan rudal Iran berkurang, kemampuan mereka untuk memobilisasi kembali senjata masih signifikan, menambah ketegangan regional yang belum terpecahkan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.