Media Kampung – 11 April 2026 | Drone pengintai MQ-4C Triton milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang dibanderol sekitar 200 juta dolar (Rp 3,5 triliun) dilaporkan menghilang dari radar di kawasan Selat Hormuz setelah mengirimkan kode darurat 7700.
Pesawat tanpa awak tersebut baru saja menyelesaikan misi pengintaian tiga jam di atas Teluk Persia dan Selat Hormuz, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke pangkalan Naval Air Station Sigonella, Italia; data Flightradar24 mencatat drone berbelok sedikit ke arah wilayah Iran sebelum mengirim sinyal darurat.
Sesaat setelah kode darurat dipancarkan, Triton mengalami penurunan ketinggian secara drastis dan kemudian menghilang total dari sistem pelacakan, meninggalkan pertanyaan apakah kegagalan teknis atau tindakan eksternal menjadi penyebab.
Insiden ini terjadi dua hari setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani gencatan senjata pada 8 April 2026, menambah ketegangan di zona yang sudah sensitif.
MQ-4C Triton merupakan platform ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) berkelas High Altitude Long Endurance yang mampu terbang di atas 50.000 kaki, bertahan lebih dari 24 jam, dan menjangkau hingga 7.400 mil laut.
Dengan nilai investasi lebih dari 200 juta dolar per unit, Triton menjadi mata utama Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) untuk wilayah Teluk, serta berperan sebagai pendamping pesawat patroli P-8A Poseidon dalam misi pengawasan maritim.
Hingga akhir 2025, Angkatan Laut AS mengoperasikan 20 unit Triton dan merencanakan penambahan tujuh unit lagi dalam beberapa tahun ke depan, menandakan pentingnya aset ini dalam strategi pertahanan laut Amerika.
Kehilangan satu unit berharga tinggi diperkirakan akan menurunkan kapabilitas pengawasan maritim AS di kawasan tersebut, sementara pihak militer AS menyatakan sedang melakukan penyelidikan menyeluruh.
Seorang juru bicara Angkatan Laut AS mengatakan, “Kami sedang melakukan investigasi penuh untuk mengidentifikasi penyebab hilangnya Triton dan akan mengumumkan temuan kami sesegera mungkin,” menegaskan komitmen transparansi.
Pihak Iran belum mengonfirmasi keterlibatan atau menolak tuduhan terkait insiden tersebut, namun menegaskan bahwa wilayah udara dan lautnya akan tetap dijaga sesuai kedaulatan nasional.
Pengamat internasional mencatat bahwa peristiwa ini menyoroti kerentanan aset teknologi tinggi di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak dunia yang paling strategis dan rawan konflik.
Sampai penyebab pasti terungkap, keberadaan drone Triton tetap tidak diketahui, memperingatkan semua pihak akan risiko operasional di perairan yang diperebutkan secara geopolitik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan