Media Kampung – 10 April 2026 | Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran akan digelar pada Sabtu 11 April 2026 di Islamabad, Pakistan, namun situasi di lapangan tetap tegang.

gencatan senjata dua pekan yang disepakati pada 10 April tidak sepenuhnya dihormati; Washington menuduh Iran menutup Selat Hormuz, sementara Tehran menilai serangan Israel ke Lebanon melanggar kesepakatan.

Pada Rabu 8 April, militer Israel melancarkan serangan besar ke sepuluh titik di Lebanon, menargetkan pos peluncuran roket Hizbullah, yang memicu balasan rudal dari kelompok militan.

Serangan tersebut menambah beban bagi Iran yang menuntut pencabutan blokade di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi dunia, dan menegaskan bahwa mereka tidak akan mengizinkan agresi terhadap Lebanon berlanjut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik Tehran lewat unggahan media sosial, menyebutnya gagal membuka kembali jalur minyak, sekaligus berjanji bahwa aliran minyak akan kembali lancar meski belum mengumumkan langkah konkret.

Baca juga:

Dalam pidato televisi pada 1 April, Trump menegaskan komitmen AS untuk menekan Iran agar mematuhi gencatan senjata, sambil menahan keberadaan pasukan AS di kawasan tersebut.

Iran menanggapi dengan menegaskan bahwa serangan Israel merupakan penghalang utama bagi pencabutan blokade Hormuz, dan menuduh Amerika tidak menahan sekutunya di Lebanon.

Ayatollah Mojtaba Khamenei, putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran, mengingatkan bahwa Iran akan membalas setiap agresi yang menyebabkan perang, menekankan bahwa agresor tidak akan lepas dari pertanggungjawaban.

Tehran mengajukan sepuluh poin solusi, termasuk mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz, pengakuan hak nuklir, penghapusan sanksi, serta penghentian serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuntut agar perjanjian damai mencakup pelucutan senjata Hizbullah, menyoroti keinginan Israel untuk membangun hubungan damai dengan Lebanon setelah serangan.

Pemerintah Pakistan berupaya memfasilitasi dialog, menyiapkan infrastruktur logistik di Islamabad dan menegaskan kesiapan menjadi mediator netral antara kedua belah pihak.

Namun, delegasi Iran belum tiba di Islamabad, dan pejabat Tehran menyatakan tidak akan mengirim perwakilan sebelum Israel menghentikan pengeboman di Lebanon.

Baca juga:

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menekankan bahwa keberlanjutan perundingan bergantung pada kepatuhan AS terhadap komitmen gencatan senjata di semua front, terutama di Lebanon.

Sementara itu, data sipil Lebanon mencatat lebih dari 300 warga tewas dan ribuan luka akibat serangan Israel sejak 2 Maret, meningkatkan tekanan internasional pada kedua belah pihak.

Dalam 24 jam terakhir setelah gencatan senjata, hanya satu kapal tanker dan lima kapal kargo yang berlayar melintasi Selat Hormuz, menandakan dampak ekonomi global yang masih terasa.

Para pengamat menilai bahwa kegagalan memenuhi poin‑poin Iran atau menghentikan operasi militer Israel dapat menggagalkan pertemuan di Islamabad dan memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dengan jadwal perundingan yang semakin dekat, dunia menanti apakah tekanan diplomatik dan ancaman militer akan berujung pada kesepakatan atau justru memicu konflik yang lebih luas.

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kedatangan delegasi AS, namun pejabat Amerika menyatakan kesiapan mendukung proses damai asalkan Iran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.

Situasi ini menegaskan bahwa meskipun ada upaya mediasi, konflik yang melibatkan tiga negara utama – AS, Iran, dan Israel – tetap menjadi faktor penghambat utama bagi tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.

Baca juga:

Perundingan di Pakistan tetap menjadi titik fokus, namun keberhasilannya akan sangat dipengaruhi oleh langkah konkret masing-masing pihak dalam menghentikan serangan dan membuka jalur energi vital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.