Media Kampung – 10 April 2026 | Beijing memperkuat upaya diplomatiknya untuk memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sekaligus menekan Iran agar menahan ketegangan dengan Amerika Serikat. Langkah ini mencerminkan tujuan China untuk menstabilkan wilayah yang berpotensi mengguncang ekonominya.
Pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri mengirim delegasi senior ke Timur Tengah pekan lalu, mengadakan pertemuan dengan perwakilan Israel dan Palestina di Yerusalem serta Ramallah. Delegasi tersebut menyampaikan kesiapan Beijing menjadi tuan rumah pembicaraan perdamaian jangka panjang.
Pada waktu bersamaan, diplomat China mengunjungi Teheran untuk membahas de‑eskalasi dengan pejabat Iran. Mereka menekankan pentingnya menghindari konfrontasi lebih luas yang dapat mengganggu pasar minyak dan rantai pasokan global.
“China menginginkan penyelesaian damai yang menjamin stabilitas regional dan melindungi kepentingan ekonomi global,” kata juru bicara senior Kementerian Luar Negeri dalam konferensi pers. Pernyataan itu menegaskan pertimbangan strategis Beijing.
Para pengamat mencatat bahwa keterlibatan China dipicu oleh ketergantungan pada impor energi Timur Tengah, yang menyumbang porsi signifikan konsumsi minyak mentahnya. Gangguan pasokan dapat berdampak pada sektor manufaktur domestik dan ekspor.
Pemerintah China juga khawatir tentang efek spillover pada proyek Belt and Road Initiative di kawasan tersebut, banyak di antaranya memerlukan lingkungan yang aman. Ketidakstabilan dapat membahayakan investasi di pelabuhan dan infrastruktur.
Washington berulang kali memperingatkan bahwa eskalasi dengan Iran dapat memaksa AS memperluas kehadiran militer di Teluk. Beijing tampaknya mencegah skenario itu dengan menempatkan diri sebagai mediator netral.
Dalam pernyataan terpisah, Kedutaan Besar China di Washington menyerukan Amerika Serikat untuk menahan diri dan menggunakan jalur diplomatik. Mereka menyoroti risiko benturan langsung yang dapat menghambat pemulihan ekonomi global.
Dewan Keamanan PBB belum mencapai kemajuan signifikan terkait isu Timur Tengah, mendorong kekuatan regional mencari mediasi alternatif. Proposal China sejalan dengan peranannya yang semakin besar dalam penyelesaian konflik multilateral.
Ekonom mencatat bahwa konflik berkepanjangan dapat menurunkan harga komoditas dan memicu aliran keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk bursa saham China. Menstabilkan wilayah tersebut melayani tujuan geopolitik dan finansial.
Upaya diplomatik Beijing juga bertujuan menyeimbangkan pengaruh kekuatan tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa dalam proses perdamaian. Dengan menawarkan narasi berbeda, China berharap meningkatkan soft power-nya.
Media China secara konsisten menyoroti dampak kemanusiaan perang di Gaza, menyerukan gencatan senjata segera serta akses bantuan kemanusiaan. Penekanan ini sejalan dengan pesan diplomatik pemerintah.
Walaupun sebagian aktor regional menyambut mediasi China, yang lain tetap skeptis terhadap netralitas Beijing mengingat hubungan strategisnya dengan Israel dan Iran. Keberhasilan bergantung pada kesediaan pihak-pihak untuk berkompromi.
Seiring inisiatif diplomatik berlanjut, komunitas internasional mengamati apakah China dapat mengubah usulannya menjadi langkah konkret de‑eskalasi. Keberhasilan upaya ini berpotensi mengubah peran Beijing dalam krisis global di masa mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan