Media Kampung – 10 April 2026 | Perang antara Amerika Serikat dan Iran dimulai akhir Februari 2026, menambah beban berat bagi penduduk sipil.

Sebelum konflik, inflasi tahunan Iran hampir mencapai 50 %, menggerus daya beli masyarakat.

AFP melaporkan bahwa lonjakan harga memicu protes massal pada awal tahun.

Lima minggu bombardir memperparah kelangkaan barang kebutuhan pokok seperti roti, obat, dan popok.

Amir, 40 tahun, warga Tehran, menyatakan harga roti panggang naik dari 700.000 menjadi 1.000.000 rial dalam semalam.

Baca juga:

Temannya kini harus membayar 180 juta rial untuk obat kanker yang sebelumnya berharga tiga juta rial.

Kaveh, seorang seniman, mencatat kenaikan 25 % pada semua menu kafe Dobar dalam satu hari.

Di provinsi barat laut yang berbatasan dengan Turki, beberapa barang impor berharga tiga kali lipat normal.

Bank sentral merespon dengan mencetak uang kertas bernilai 10 juta rial pada pertengahan Maret, denominasi tertinggi.

Sebulan sebelumnya, uang 5 juta rial menjadi rekor tertinggi, menandakan devaluasi cepat rial.

Devaluasi dan inflasi memicu protes anti‑pemerintah terbesar tahun ini, dimulai dari pedagang pasar Tehran.

Penindakan keamanan menewaskan ribuan, kata organisasi hak asasi manusia.

Guncangan ekonomi juga menyebabkan penutupan luas bisnis serta pemotongan jam operasional pasar.

Perusahaan konstruksi memberhentikan banyak pekerja, termasuk migran Afghanistan.

Faizullah, pelukis 23‑tahun, mengatakan peluang kerja menghilang saat perang dimulai.

Rekan sejawatnya, Walijan, menambahkan banyak pengusaha melarikan diri ke luar negeri.

Gangguan internet lebih dari lima minggu mengguncang e‑commerce dan pekerjaan jarak jauh.

Seorang analis keuangan 35‑tahun dari Isfahan mengaku sangat khawatir akan masa depan ekonomi.

Serangan udara pada pabrik baja, fasilitas petrokimia, jembatan dan jalan raya diproyeksikan menurunkan pertumbuhan jangka panjang.

Adnan Mazarei, mantan pejabat senior IMF, menegaskan sektor perbankan Iran masuk perang dalam kondisi rapuh.

Baca juga:

Ia mencatat neraca lemah dan pinjaman macet sebelum konflik.

Perang memperparah kerentanan tersebut, membuat bank tak mampu membayar kembali pinjaman.

Penarikan ATM dibatasi selama pertempuran, namun layanan kartu tetap beroperasi sebagian.

Bank swasta Ayandeh runtuh pada akhir tahun lalu dengan kerugian setara USD 5,2 miliar.

Mazarei memperkirakan intervensi negara dan pencetakan uang tambahan mungkin diperlukan.

Badan Statistik Iran melaporkan inflasi Februari 2026 mencapai 47,5 %, mengonfirmasi lonjakan tajam.

Pada 8 April 2026, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu setelah lebih dari sebulan pertempuran.

Kesepakatan muncul setelah tekanan diplomatik intens, terutama dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.

Sharif menyatakan Washington akan menangguhkan serangan selama dua minggu bila Tehran membuka Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump menulis di Truth Social bahwa jeda ini akan membuka “zaman keemasan” di Timur Tengah.

Trump sebelumnya mengancam memusnahkan Iran, namun kemudian menyuarakan kesiapan membicarakan pengurangan tarif dan sanksi.

AS juga memperingatkan tarif 50 % bagi negara yang memasok senjata ke Iran.

Pemerintah Tehran mengeluarkan rencana gencatan senjata sepuluh poin, menuntut penghentian total perang di Iran, Irak, Lebanon, dan Yaman, serta pencabutan sanksi.

Tehran berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir selama masa gencatan.

Negosiasi lanjutan dijadwalkan di Islamabad pada 10 April untuk merumuskan perjanjian lebih permanen.

Baca juga:

Analis mencatat peran Pakistan sebagai perantara tepercaya membuka ruang de‑eskalasi.

Dampak gabungan perang dan hiperinflasi meninggalkan warga Iran dalam ketidakpastian pekerjaan, layanan kesehatan, dan keamanan pangan.

Walau gencatan mengurangi risiko keamanan langsung, krisis ekonomi yang mendasar belum teratasi.

Pengamat memperingatkan bahwa tanpa dukungan fiskal signifikan dan stabilisasi mata uang, inflasi dapat terus menggerogoti standar hidup.

Negara kini menghadapi tantangan ganda: membangun kembali infrastruktur dan memulihkan kepercayaan pada sistem keuangan.

Keluarga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab, Tehran, berharap jeda tersebut menjadi bantuan nyata.

Komunitas internasional memantau situasi, menyeimbangkan keterlibatan diplomatik dengan kekhawatiran atas stabilitas regional.

Selama gencatan, harga roti dan obat tetap menjadi barometer pemulihan Iran.

Minggu-minggu mendatang akan menentukan apakah jeda sementara ini menjadi fondasi bagi perdamaian dan kebangkitan ekonomi jangka panjang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.