Media Kampung – 09 April 2026 | Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesediaannya mengorbankan nyawa demi negara, menegaskan komitmen pada perdamaian regional dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Pezeshkian menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon tetap menjadi syarat utama dalam proposal sepuluh poin Iran yang bertujuan menghentikan agresi Israel.
Ia mengingatkan bahwa tanpa penghentian hostilitas, keamanan seluruh Levant tidak dapat terjamin.
Proposal tersebut mengaitkan penghentian serangan Israel di Lebanon dengan langkah diplomatik yang lebih luas, dan telah disampaikan kepada komunitas internasional.
Panggilan itu berlangsung pada 8 April 2026, sehari setelah Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan ratusan warga Lebanon, melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.
Pezeshkian menuduh Israel melanggar truk gencatan senjata Iran‑Israel‑Hezbollah 2024 dan memperingatkan bahwa pelanggaran lebih lanjut dapat mengguncang stabilitas kawasan.
Ia memuji peran Prancis dalam menjamin gencatan senjata 2024 antara Israel dan Hizbullah, menyebut Paris sebagai “mediator kunci” dalam negosiasi saat ini.
“Prancis dapat membantu memastikan bahwa kondisi yang kami tetapkan dipatuhi,” ujarnya, sambil mendesak kekuatan Eropa mengambil sikap lebih tegas.
Preziden Iran mengkritik negara‑negara Eropa yang enggan mengecam tindakan Amerika Serikat dan Israel, menyebut keheningan mereka tidak bertanggung jawab.
Ia menyerukan Uni Eropa untuk menekan agresor agar menepati komitmen mereka dan mencegah pelanggaran lebih lanjut.
Mengenai Selat Hormuz, Pezeshkian menghubungkan ketidakamanan baru-baru ini dengan tekanan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Ia menegaskan Iran selalu menjaga keamanan jalur laut bagi kapal dagang sambil melindungi kepentingan nasionalnya.
Iran menegaskan bahwa proposalnya mencerminkan niat tulus menyelesaikan perselisihan melalui dialog, bukan kekerasan.
Dalam percakapan yang sama, Pezeshkian menekankan bahwa kesiapan Iran mengorbankan nyawa meluas kepada semua warga yang mempertahankan kedaulatan negara.
Ia menutup dengan menyatakan bahwa stabilitas berkelanjutan di Timur Tengah memerlukan pendekatan seimbang yang menghormati hak semua aktor regional.
Komunitas internasional memantau dengan saksama langkah Tehran, Yerusalem, dan Washington yang tengah menavigasi lanskap keamanan yang volatile.
Pengamat mencatat bahwa pernyataan eksplisit tentang pengorbanan pribadi menandakan peningkatan retorika komitmen, meski hasil praktisnya masih belum jelas.
Panggilan itu diakhiri dengan kesepakatan melanjutkan pertukaran diplomatik dan mencari jadwal konkret gencatan senjata untuk Lebanon.
Sampai saat ini belum ada respons resmi dari Israel atau Amerika Serikat, sehingga kelayakan proposal tetap terbuka.
Situasi ini menegaskan kerentanan perdamaian di Levant serta peran penting kekuatan eksternal dalam memediasi konflik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan