Media Kampung – 09 April 2026 | Iran dan China meningkatkan penggunaan yuan dalam transaksi energi di kawasan Selat Hormuz, menandai upaya bersama mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Kedua negara menegaskan komitmen mereka untuk memperluas perjanjian pembayaran lintas mata uang sebagai respons terhadap volatilitas nilai tukar dolar.
Selat Hormuz, jalur pelayaran utama yang menyumbang sekitar tiga perempat pasokan minyak dunia, menjadi titik fokus strategi keuangan baru ini.
Para analis menilai langkah tersebut dapat memperlambat dominasi dolar dalam perdagangan minyak dan gas internasional.
Pemerintah Iran menyebutkan bahwa penggunaan yuan akan mempermudah akses ke pasar China, yang merupakan konsumen energi terbesar di dunia.
Dalam sebuah pernyataan resmi, pejabat senior Kementerian Energi Iran menambahkan bahwa yuan kini diterima dalam hampir setengah transaksi ekspor minyak.
China, di sisi lain, terus mempromosikan yuan sebagai alternatif global melalui inisiatif Belt and Road serta jaringan pembayaran lintas batas.
Bank Sentral China menyatakan bahwa peningkatan penggunaan yuan di kawasan Timur Tengah sejalan dengan target diversifikasi cadangan devisa.
Data terbaru menunjukkan bahwa volume perdagangan energi yang menggunakan yuan tumbuh lebih dari 30 persen dalam enam bulan terakhir.
Pertumbuhan tersebut dipicu oleh penandatanganan beberapa memorandum kerjasama antara perusahaan energi Iran dan bank-bank China.
Para pedagang internasional mencatat bahwa transaksi dalam yuan dapat mengurangi biaya konversi mata uang dan risiko fluktuasi kurs.
Namun, beberapa pihak memperingatkan bahwa infrastruktur keuangan yang mendukung yuan masih terbatas dibandingkan jaringan SWIFT yang dikuasai dolar.
Untuk mengatasi hal tersebut, China memperluas jaringan sistem pembayaran CIPS (Cross‑Border Interbank Payment System) ke lebih banyak lembaga keuangan di Iran.
Langkah ini diharapkan mempercepat penyelesaian transaksi tanpa melibatkan dolar secara langsung.
Penggunaan yuan dalam perdagangan minyak Iran juga mendapat dukungan dari beberapa negara produsen lain yang mencari alternatif mata uang.
Negara-negara seperti Rusia dan Venezuela telah mengeksplorasi pembayaran dalam mata uang non‑dolar selama beberapa tahun terakhir.
Sejumlah ahli ekonomi berpendapat bahwa pergeseran mata uang ini dapat memicu penyesuaian kebijakan moneter di negara-negara berkembang.
Mereka menekankan bahwa diversifikasi mata uang pembayaran dapat memperkuat stabilitas fiskal di tengah tekanan inflasi global.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS menilai bahwa upaya tersebut belum cukup signifikan untuk mengubah struktur pasar energi internasional.
Pejabat AS mengingatkan bahwa dolar tetap menjadi mata uang cadangan utama dan masih menguasai mayoritas transaksi minyak dunia.
Meski demikian, perkembangan ini menandakan adanya tren jangka panjang menuju multipolaritas keuangan.
Kebijakan baru Iran‑China juga dipandang sebagai upaya memperkuat hubungan geopolitik di wilayah Timur Tengah.
Kerjasama strategis ini mencakup tidak hanya aspek ekonomi, melainkan juga keamanan maritim di Selat Hormuz.
Militer Iran menyatakan kesiapan meningkatkan patroli untuk memastikan kelancaran pengiriman energi.
China mengonfirmasi akan memperkuat kerja sama keamanan maritim dengan Iran melalui latihan bersama.
Pengaruh geopolitik ini menambah dimensi kompleks dalam persaingan ekonomi global antara blok Barat dan Timur.
Investor internasional disarankan memantau perubahan pola pembayaran dan potensi dampaknya terhadap nilai tukar dolar.
Analisis pasar menunjukkan bahwa pergeseran mata uang dapat mempengaruhi indeks komoditas dan harga minyak.
Di pasar modal, saham perusahaan energi yang beroperasi di wilayah tersebut mengalami volatilitas meningkat.
Peningkatan penggunaan yuan juga membuka peluang bagi perusahaan fintech China untuk mengembangkan layanan keuangan di kawasan.
Secara keseluruhan, langkah Iran dan China mencerminkan strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan kekuatan moneter dunia.
Pengembangan ini masih berada pada tahap awal, namun menandai perubahan signifikan dalam dinamika perdagangan energi global.
Pengamat ekonomi menutup dengan catatan bahwa diversifikasi mata uang pembayaran dapat menjadi katalis bagi reformasi sistem keuangan internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan