Media Kampung – 08 April 2026 | Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada dini hari 7 April 2026 menghancurkan Sinagoge Rafi‑Nia di pusat kota Tehran, menewaskan sedikitnya 15 orang.
Ledakan terjadi ketika sebuah bangunan tempat tinggal di sebelah sinagoge menjadi sasaran, dan jalan‑jalan sempit di sekitar lokasi memperparah dampak kerusakan pada struktur sekitarnya.
Sinagoge Rafi‑Nia merupakan tempat ibadah bersejarah bagi komunitas Yahudi Iran, khususnya warga yang berasal dari wilayah Khorasan di timur laut negara itu.
Komunitas Yahudi di Iran diperkirakan berjumlah antara 8.000 hingga 15.000 orang, tersebar di Tehran, Isfahan, dan Shiraz sejak banyak yang melarikan diri pasca Revolusi 1979.
Para pemimpin komunitas Yahudi mengecam serangan itu sebagai tindakan brutal terhadap tanah air mereka dan menegaskan solidaritas mereka dengan rakyat Iran.
“Kami mengutuk serangan brutal yang dilakukan oleh musuh Amerika‑Zionis terhadap tanah air kami tercinta dan sinagoge Rafi‑Nia,” ujar Homayoun Sameh, perwakilan komunitas Yahudi di Majelis Permusyawaratan Islam Iran.
Pejabat Israel menolak menargetkan tempat ibadah, menyatakan bahwa tujuan serangan adalah infrastruktur yang dianggap terorisme, bukan fasilitas keagamaan.
Benjamin Netanyahu menegaskan perbedaan antara serangan Iran yang menembakkan rudal ke warga sipil dan operasi Israel yang menyasar target teror, meski tidak ada pernyataan resmi dari Tel Aviv mengenai insiden ini.
Seorang pejabat IDF yang berbicara secara off‑record mengaku bahwa rudal dimaksud ditujukan pada seorang perwira militer Iran, namun proyektil meleset dan menghancurkan sinagoge.
Keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi tersebut dikonfirmasi oleh beberapa laporan militer, yang menyebutkan penggunaan rudal jelajah buatan AS dalam serangkaian serangan di wilayah Iran.
Selain sinagoge, serangan tersebut merusak sejumlah gedung apartemen, fasilitas kesehatan, dan kampus Universitas Teknologi Sharif, meski tidak ada korban jiwa dilaporkan di kampus.
Media Iran mencatat tambahan enam korban tewas di kota Pardis dan sembilan korban di Shahriar, menambah total korban tewas menjadi lebih dari lima belas orang.
Pemerintah Tehran mengerahkan alat berat untuk membersihkan puing‑puing, mencari korban yang masih dapat diselamatkan, serta melindungi sisa bangunan bersejarah di sekitar lokasi.
Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran menuduh serangan itu melanggar konvensi internasional dan mengajak komunitas internasional untuk mengecam tindakan militer unilateral tersebut.
Rafi‑Nia memiliki nilai sejarah tinggi karena menjadi pusat kegiatan keagamaan dan budaya bagi Yahudi Iran sejak awal abad ke‑20, menyimpan koleksi gulungan Taurat berusia puluhan tahun.
Meskipun minoritas, Yudaisme diakui secara resmi dalam konstitusi Iran bersama agama‑agama lain, memberikan hak representasi di parlemen dan kebebasan beribadah.
Sejak revolusi 1979, sebagian besar komunitas Yahudi Iran memilih emigrasi, menyisakan hanya beberapa ribu orang yang tetap tinggal dan mengelola beberapa sinagoge di kota besar.
Di luar Tehran, sinagoge lain berada di Isfahan dan Shiraz, namun tidak ada laporan kerusakan pada fasilitas keagamaan tersebut dalam gelombang serangan terkini.
Kerusakan total sinagoge mengakibatkan gulungan kitab suci berjatuhan di antara puing, menambah kepedihan bagi komunitas yang sudah terpinggirkan.
Laporan Al Jazeera menyoroti bahwa insiden ini memperburuk ketegangan regional dan menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan situs keagamaan dalam konflik bersenjata.
Berbagai media internasional, termasuk The Times of Israel dan Reuters, mencatat pernyataan resmi kedua belah pihak serta upaya penyelamatan yang sedang berlangsung.
Kejadian ini menandai eskalasi baru dalam konfrontasi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta menimbulkan kekhawatiran akan potensi serangan lanjutan di wilayah timur tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan