Media Kampung – 08 April 2026 | Jusuf Kalla menegaskan bahwa Iran tidak mudah dikalahkan dalam perang modern karena kombinasi teknologi militer canggih dan warisan historis yang kuat.

Kalla menambahkan bahwa sejarah panjang bangsa Persia memberikan fondasi mental dan budaya yang tahan banting dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ia mencontohkan bahwa Iran berhasil mempertahankan kedaulatan wilayahnya meski berada di bawah sanksi internasional yang berat.

Penggunaan drone buatan dalam operasi militer menjadi salah satu contoh inovasi teknis yang dipuji oleh mantan wakil presiden tersebut.

Kalla menyebutkan bahwa kemampuan produksi senjata dalam negeri memungkinkan Iran mengurangi ketergantungan pada pemasok luar.

Ia juga menyoroti peran intelijen siber Iran yang semakin terintegrasi dengan strategi konvensional di medan perang.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait program nuklir Iran.

Jusuf Kalla menekankan pentingnya memahami faktor-faktor teknis dan historis ketika menilai potensi konflik yang melibatkan Tehran.

Dia menyatakan, “Iran memiliki fondasi teknologi yang kuat serta warisan budaya yang memupuk ketahanan dalam situasi krisis.”

Komentar itu mengingatkan pada laporan militer yang menyebutkan Iran telah mengembangkan rudal balistik jarak menengah dengan akurasi yang meningkat.

Selain rudal, Iran juga memperluas kapasitas pertahanan udara dengan sistem anti-pesawat yang mampu menembus pertahanan musuh.

Para ahli menilai bahwa kombinasi antara kemampuan produksi domestik dan akses ke teknologi asing melalui jaringan sekutu meningkatkan daya tahan militer Iran.

Dalam konteks ekonomi, Kalla menyinggung bahwa sanksi membuat Iran lebih kreatif dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Strategi tersebut mencakup kerja sama dengan negara-negara non-Barat untuk transfer teknologi militer secara tertutup.

Sejumlah analis mengonfirmasi bahwa Iran telah memperkuat jaringan logistiknya di wilayah Teluk Persia untuk mempercepat mobilisasi pasukan.

Kalla menuturkan bahwa sejarah Persia selama ribuan tahun mengajarkan strategi bertahan melalui adaptasi dan inovasi berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa semangat nasionalisme yang kuat turut memperkokoh moral pasukan dalam menghadapi konflik.

Pengamatan tersebut relevan mengingat Indonesia tengah memperkuat hubungan keamanan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Kalla menekankan bahwa belajar dari pengalaman Iran dapat memberi pelajaran tentang pentingnya kemandirian pertahanan.

Dia menegaskan bahwa negara-negara harus memprioritaskan pengembangan teknologi militer domestik untuk mengurangi risiko ketergantungan.

Pernyataan tersebut juga menyentuh isu keamanan siber, dimana Iran dianggap telah menguasai teknik serangan yang dapat mengganggu infrastruktur kritis.

Jusuf Kalla menyoroti bahwa kemampuan serangan siber menambah dimensi baru dalam perang modern, memperluas ruang taktik Iran.

Ia mengingatkan bahwa kesiapan militer tidak hanya diukur dari jumlah senjata, tetapi juga dari integrasi sistem informasi.

Hal ini memperkuat posisi Iran dalam menanggapi ancaman dengan respons yang cepat dan terkoordinasi.

Pengamat militer menilai bahwa strategi Iran berfokus pada asimetri, memanfaatkan keunggulan teknologi tertentu untuk menyeimbangkan kekuatan lawan.

Kalla menyimpulkan bahwa memahami faktor-faktor ini penting bagi negara lain yang ingin mengelola risiko keamanan di wilayah tersebut.

Dia menekankan pentingnya dialog diplomatik sambil tetap meningkatkan kemampuan pertahanan nasional.

Secara keseluruhan, pernyataan JK menyoroti bahwa Iran bukan sekadar negara yang dikelilingi sanksi, melainkan entitas militer yang beradaptasi dengan cepat.

Dengan latar belakang sejarah Persia dan investasi pada teknologi, Iran tetap menjadi aktor signifikan dalam dinamika keamanan regional.

Jusuf Kalla menutup pembicaraan dengan harapan bahwa negara-negara dapat belajar dari pendekatan Iran untuk memperkuat kemandirian militer masing-masing.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.