Media Kampung – 08 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ultimatum kepada Iran, memberi waktu 20 jam untuk memenuhi tuntutan membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan militer.

Trump menegaskan bahwa bila Iran tidak menyerah, pasukannya akan menghancurkan pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur penting, serta menegaskan akan memusnahkan “peradaban” Iran dalam semalam.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun media sosial Truth Social dan dikutip oleh sejumlah media internasional pada Selasa, 7 April 2026.

Sementara itu, pejabat parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, mengeluarkan balasan tegas, menyatakan Tehran tidak akan tunduk pada ancaman Washington.

Mohammadi menambahkan bahwa sekutu‑sekutu Amerika di kawasan akan “dikembalikan ke zaman batu” jika AS tidak menghentikan tekanan.

Ultimatum Trump mencakup penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang mengalirkan hampir seperempat minyak dunia, yang ia katakan harus dibuka selambat‑lambatnya pada malam Rabu WIB.

Jika tidak tercapai, Trump mengancam pengeboman target sipil dan militer di Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan utama.

Pemerintah Iran menolak keras proposal tersebut, menyebutnya sebagai “proposal Amerika” yang tidak adil.

Menteri Komunikasi dan Informasi Iran, Mehdi Tabatabai, menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka setelah pendapatan transit menutupi kerugian akibat perang.

Tabatabai menambahkan bahwa negara‑negara kawasan sedang mencari solusi diplomatik untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Sementara Trump mengklaim memiliki “rencana terbaik” untuk menyelesaikan sengketa, ia menolak mengungkapkan detail strategi tersebut kepada publik.

Wartawan menanyakan kepada Trump apakah ia memang siap melaksanakan ancaman tersebut, dan ia menjawab bahwa ia berharap tidak perlu melakukan aksi militer.

Donald Trump menegaskan bahwa periode ini merupakan momen kritis, dan keputusan selanjutnya akan bergantung pada respons Iran.

Penasihat juru bicara Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, menolak segala bentuk intimidasi, menegaskan bahwa Tehran tidak akan menyerah pada tekanan waktu.

“Kami tidak akan tunduk pada ultimatum yang tidak realistis,” ujar Mohammadi dalam wawancara dengan News 18 pada Selasa.

Pada Senin sebelum batas waktu, Trump menyatakan harapannya agar tidak ada serangan terhadap infrastruktur Iran, meski ia tetap menegaskan kesiapan militer.

Konflik ini bermula setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap instalasi militer Iran pada 28 Februari 2026.

Sejak saat itu, kedua belah pihak saling melontarkan ancaman, sementara komunitas internasional menyerukan dialog dan de‑eskalasi.

Beberapa negara Asia memilih jalur diplomasi, menekankan pentingnya menjaga kelancaran lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.

Pihak Iran menolak segala syarat yang mengharuskan mereka menyerahkan kontrol penuh atas Selat Hormuz kepada negara‑negara pesisir lain.

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika Iran tidak menuruti tuntutannya.

Pernyataan ini menuai kritik tajam dari kalangan analis yang menilai retorika tersebut berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.

Sebaliknya, pejabat Iran menegaskan bahwa mereka siap mempertahankan kedaulatan dan tidak akan menyerahkan hak kontrol selat.

Konflik ini telah menimbulkan penurunan nilai tukar rupiah, yang melemah 70 poin akibat ketidakpastian geopolitik.

Pasar energi global juga mengalami gejolak, dengan harga minyak mentah naik signifikan sejak awal April 2026.

Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa kelanjutan konfrontasi dapat memperburuk inflasi di banyak negara berkembang.

Di tingkat regional, sekutu‑sekutu Amerika seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menegaskan dukungan mereka terhadap kebijakan Washington.

Namun, beberapa negara di Timur Tengah menyuarakan keprihatinan atas potensi kerusakan infrastruktur sipil yang dapat mempengaruhi jutaan warga.

Hingga batas waktu 20 jam berakhir, belum ada konfirmasi resmi apakah Iran akan menuruti tuntutan atau tetap menolak.

Situasi tetap tegang, dan dunia menantikan perkembangan selanjutnya yang dapat menentukan arah kebijakan keamanan di kawasan Teluk.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.