Media Kampung – 06 April 2026 | Ribuan demonstran berkumpul di sekitar Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UEA) di Damaskus pada Senin malam, menyerbu kompleks diplomatik tersebut.
Kerumunan itu menyebut gedung itu sebagai “kedutaan Zionis” sambil melontarkan teriakan anti‑Israel.
Aksi terjadi setelah video beredar di media sosial yang menuduh UEA memberikan dukungan militer kepada Israel.
Para pengunjuk rasa menuntut agar negara tersebut menghentikan semua bantuan yang dianggap memperkuat kebijakan Israel di Palestina.
Pihak keamanan Suriah berusaha menenangkan situasi dengan menurunkan barikade di sekitar gedung.
Namun, upaya tersebut belum menghentikan teriakan dan pelemparan batu dari massa.
Pejabat kedutaan UEA menyatakan bahwa staf mereka berada dalam kondisi aman dan tidak ada cedera serius.
Mereka menolak tuduhan bahwa kedutaan berperan dalam konflik regional.
Langkah tersebut diambil untuk mencegah eskalasi yang dapat mengganggu keamanan publik.
Saksi mata melaporkan bahwa beberapa kendaraan kepolisian diparkir di jalan utama mengelilingi gedung kedutaan.
Pengunjuk rasa tetap berada di lokasi selama lebih dari dua jam, meski suara sirene dan pengeras suara terdengar.
Ketua kelompok aktivis lokal, Ahmad al‑Khatib, mengatakan aksi tersebut merupakan protes terhadap kebijakan luar negeri UEA yang dianggap mendukung Israel.
Ia menambahkan, “Kami tidak akan diam ketika ada negara yang memfasilitasi penjajahan”.
Pihak Kedutaan menegaskan komitmen mereka terhadap hubungan diplomatik dengan Suriah, meski situasi kini menegangkan.
Mereka juga menolak spekulasi bahwa kedutaan menjadi target karena kepentingan politik tertentu.
Pemerintah Suriah mengeluarkan pernyataan bahwa serangan terhadap kedutaan tidak dapat diterima dan akan ditindak secara hukum.
Presiden Suriah, Bashar al‑Assad, menekankan pentingnya menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah diplomatik.
Dia menambahkan, “Kami menghormati hak warga untuk menyuarakan pendapat, namun tidak boleh mengorbankan keselamatan institusi internasional”.
Pengamat hubungan internasional, Dr. Lina Saif, mencatat bahwa serangan semacam ini dapat menambah ketegangan antara negara-negara Arab dan Israel.
Saif menilai, “Jika tidak dikelola dengan hati-hati, insiden ini bisa memicu reaksi balasan diplomatik atau bahkan ekonomi“.
Sejumlah negara sahabat Suriah, termasuk Rusia dan Iran, menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut.
Mereka menyerukan dialog damai dan penegakan hukum tanpa diskriminasi.
Sebagian besar media internasional melaporkan bahwa kejadian ini menyoroti sentimen anti‑Israel yang masih kuat di wilayah Timur Tengah.
Analisis keamanan regional menyimpulkan bahwa serangan terhadap kedutaan dapat memperburuk persepsi ketidakstabilan di Suriah.
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan properti diplomatik di zona konflik.
Sejak 2011, Suriah telah mengalami penurunan keamanan yang signifikan, namun kedutaan asing tetap menjadi target sporadis.
Para ahli menyarankan peningkatan koordinasi antara otoritas host dan negara pengirim untuk menghindari insiden serupa.
Dalam beberapa minggu ke depan, diperkirakan akan ada pemeriksaan keamanan tambahan di sekitar kedutaan asing di Damaskus.
Hal ini diharapkan dapat menurunkan risiko terjadinya aksi massa serupa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan