Media Kampung – 05 April 2026 | Kementerian Pertahanan Singapura mengonfirmasi rencana pembelian sistem roket GMLRS‑AW dari Amerika Serikat.

Sistem tersebut termasuk 155 mm Guided Multiple Launch Rocket System dengan kemampuan penargetan presisi.

Harga keseluruhan pembelian dilaporkan melebihi Rp 1,41 triliun, setara dengan sekitar USD 93 juta.

Pembelian ini dimaksudkan untuk memperkuat pertahanan udara dan darat Singapura di tengah ketegangan regional.

GMLRS‑AW dirancang untuk diluncurkan dari kendaraan 6×6 berkaliber 155 mm dengan jangkauan hingga 70 kilometer.

Roket tersebut dapat diprogram dengan data geospasial untuk menghancurkan sasaran bergerak atau tetap.

Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen, menyatakan bahwa akuisisi ini meningkatkan interoperabilitas dengan sekutu NATO.

“Kami menilai GMLRS‑AW sebagai aset penting untuk menjaga kestabilan keamanan nasional,” kata Ng dalam sebuah konferensi pers.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa penjualan dilakukan sesuai dengan perjanjian kontrol ekspor yang berlaku.

Departemen Pertahanan AS mencatat bahwa transaksi ini tidak mengubah keseimbangan militer di Asia‑Pasifik.

Analisis militer menilai bahwa penambahan roket berpresisi dapat mengurangi ketergantungan pada artileri konvensional.

Indonesia memantau perkembangan ini melalui Kementerian Pertahanan dan Badan Koordinasi Penanggulangan Konflik (BKPK).

Beberapa pengamat menilai bahwa pembelian ini mencerminkan upaya Singapura memperluas cakupan pertahanan multi‑domain.

Pemerintah Singapura menegaskan bahwa sistem roket tersebut akan diposisikan secara strategis di pangkalan darat utama.

Integrasi GMLRS‑AW diperkirakan memakan waktu enam hingga dua belas bulan, termasuk pelatihan personel.

Personel militer Singapura akan menerima pelatihan intensif di fasilitas militer AS selama fase transisi.

Pemerintah AS menawarkan paket dukungan logistik dan pemeliharaan jangka panjang untuk sistem tersebut.

Nilai transaksi mencakup biaya lisensi teknologi, pengiriman, dan layanan purna jual.

Dalam konteks geopolitik, pembelian roket berpresisi dipandang sebagai respons terhadap peningkatan aktivitas militer di Laut China Selatan.

Singapura menegaskan bahwa akuisisi tidak ditujukan untuk mengganggu keseimbangan militer regional.

Pemerintah Indonesia menilai bahwa penjualan senjata ke negara tetangga harus tetap transparan dan mematuhi peraturan internasional.

Sejumlah analis ekonomi memperkirakan dampak positif pada industri pertahanan AS, dengan peningkatan ekspor senjata mencapai level tertinggi tahun ini.

Harga Rp 1,41 triliun setara dengan belanja tahunan beberapa kementerian di Indonesia, menandakan skala investasi yang signifikan.

Di dalam negeri, masyarakat Singapura menanggapi pembelian ini dengan beragam opini, dari dukungan keamanan hingga keprihatinan biaya.

Pemerintah Singapura menegaskan bahwa pengeluaran pertahanan berada dalam batas anggaran yang disetujui oleh parlemen.

Sementara itu, Indonesia terus meningkatkan kemampuan pertahanannya melalui program lokal seperti pengembangan roket RKS.

Kedua negara tetap menjalin kerja sama di bidang keamanan maritim dan anti‑pembajakan.

Kementerian Pertahanan Singapura menutup pernyataan dengan menekankan komitmen terhadap stabilitas kawasan Asia‑Pasifik.

Pembelian GMLRS‑AW menandai langkah penting bagi Singapura dalam modernisasi persenjataan berbasis teknologi tinggi.

Secara keseluruhan, transaksi ini menegaskan peran penting AS sebagai pemasok utama sistem pertahanan bagi sekutu di Asia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.