Media Kampung – 05 April 2026 | Perang yang berlangsung di Timur Tengah mengganggu pasokan nafta global, menurunkan produksi plastik di Korea Selatan dan memicu aksi pencurian kantong plastik di beberapa wilayah kota.

Sanctions dan pembatasan pengiriman akibat konflik Iran memotong aliran nafta, bahan baku utama untuk produksi polyethylene yang dipakai dalam pembuatan kantong sampah.

Korea Selatan, sebagai salah satu konsumen nafta terbesar di Asia, mengalami penurunan pasokan yang signifikan, sehingga pabrik-pabrik plastik melaporkan penurunan output hingga 30 persen.

Kenaikan harga nafta membuat produsen kantong plastik menaikkan harga jual, sementara beberapa perusahaan terpaksa menghentikan lini produksi sementara.

Pengurangan produksi berimbas pada ketersediaan kantong plastik di pasar, memicu warga menimbun kantong dari toko atau mengambilnya dari tempat pembuangan sampah.

Pihak kepolisian melaporkan peningkatan laporan pencurian kantong plastik di area pemukiman, terutama di daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.

Seorang pejabat dinas kebersihan Seoul, Lee Min-ho, menjelaskan, “Kami melihat lonjakan permintaan ilegal terhadap kantong plastik setelah pasokan resmi menurun, dan hal ini menambah beban pada sistem pengelolaan sampah kami.”

Pedagang kelontong di daerah Mapo, Kim Ji-woo, menambahkan, “Pelangan kini meminta kantong plastik dalam jumlah besar, dan kami kadang harus mencarinya di tempat pembuangan karena tidak ada pasokan dari supplier.”

Kekurangan kantong plastik resmi memaksa warga membuang sampah tanpa kemasan, meningkatkan risiko pencemaran dan menambah beban kerja petugas kebersihan.

Ekonom dari Universitas Seoul, Park Sang-wook, mencatat, “Krisis pasokan nafta menunjukkan betapa rentannya rantai pasok global, dimana konflik regional dapat memengaruhi kebutuhan dasar seperti kemasan sampah di negara lain.”

Situasi serupa juga dilaporkan di Jepang dan Taiwan, yang menghadapi penurunan produksi plastik akibat gangguan pengiriman energi dari Timur Tengah.

Pemerintah Korea Selatan merespons dengan mengeluarkan lisensi impor darurat untuk nafta, serta memberikan subsidi sementara kepada produsen plastik lokal.

Organisasi lingkungan non‑pemerintah, Green Korea, mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan beralih ke alternatif seperti kantong kain.

Penggunaan kembali kantong plastik yang masih tersedia menjadi strategi sementara, namun otoritas mengingatkan bahwa penurunan pasokan dapat berlanjut selagi konflik di Timur Tengah belum terselesaikan.

Secara keseluruhan, konflik Iran menimbulkan dampak tidak langsung pada kebijakan sampah Korea Selatan, memaksa pemerintah dan masyarakat menyesuaikan pola konsumsi serta memperkuat upaya pengelolaan limbah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.