Media Kampung – 05 April 2026 | Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 2 April 2026 menewaskan 13 orang di jembatan B1, Karaj, provinsi Alborz, Iran. Insiden ini menambah daftar korban sejak konflik yang mulai memuncak pada akhir Februari.

Jembatan B1, infrastruktur strategis sepanjang lebih dari satu kilometer dan tinggi 176 meter, rusak parah setelah dua ledakan yang terjadi dalam waktu sekitar satu jam. Kerusakan meliputi pecahnya dek tengah serta balok baja yang melengkung.

Direktur Jenderal Yayasan Veteran dan Martir Alborz, Amir Hossein Daneshkuhan, mengonfirmasi peningkatan jumlah korban menjadi 13 orang dan menambahkan bahwa puluhan luka masih dalam perawatan. Ia menyebut bahwa evakuasi korban masih berlangsung di lokasi.

Tim penyelamat tiba di zona bencana segera setelah ledakan pertama, namun serangan kedua yang menargetkan area evakuasi memperparah situasi. Beberapa petugas darurat, yang termasuk warga sipil, terluka saat mengevakuasi korban.

Media lokal melaporkan bahwa area Azimieh dekat Karaj menjadi salah satu titik terdampak paling parah, dengan reruntuhan beton menggantung di atas jurang. Korban tewas sebagian besar merupakan pekerja konstruksi dan warga yang berada di sekitar jembatan.

Analisis militer menunjukkan taktik “double tap” yang dipakai pasukan Amerika, yaitu penyerangan berulang pada lokasi yang sama untuk menargetkan tim penyelamat. Taktik ini menimbulkan kritik internasional terkait hukum humaniter.

Serangan ini merupakan lanjutan operasi yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara pertama kali ke wilayah Iran. Hingga kini, lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian konflik tersebut, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Pemerintah Iran menuding serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan menegaskan akan meningkatkan balas dendam melalui serangan drone dan rudal ke sasaran militer di Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika.

Dampak ekonomi regional juga terasa, dengan pasar energi global mengalami fluktuasi tajam akibat ketidakpastian pasokan minyak. Beberapa jalur transportasi udara di kawasan tersebut sempat ditutup sementara.

Pada saat kejadian, sejumlah keluarga sedang beristirahat di lembah di bawah jembatan ketika ledakan mengguncang area tersebut. Saksi mata melaporkan suara gemuruh kuat diikuti oleh pecahan beton yang jatuh.

Pemerintah provinsi Alborz telah menutup akses ke jembatan B1 dan mengalihkan lalu lintas ke rute alternatif. Inspeksi teknik dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan untuk menilai kelayakan struktur secara menyeluruh.

Organisasi kemanusiaan internasional menyerukan peninjauan independen atas insiden ini dan menuntut penghentian serangan yang menargetkan fasilitas sipil. Mereka menekankan perlunya perlindungan bagi petugas medis dan penyelamat.

Sementara itu, komunitas internasional menunggu respons resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai tuduhan penggunaan taktik “double tap”. Pihak Pentagon belum memberikan penjelasan publik hingga saat ini.

Kejadian ini menambah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memperkuat persepsi bahwa konflik antara Barat dan Iran tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Analisis keamanan menilai risiko eskalasi lebih lanjut masih tinggi.

Kondisi di lokasi tetap kritis, dengan korban luka yang terus dirawat dan kerusakan infrastruktur yang menghambat mobilitas penduduk. Upaya pemulihan diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu, tergantung pada keputusan politik yang akan diambil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.