Media Kampung – 05 April 2026 | Israel menuduh kelompok militan Hizbullah sebagai penyebab serangan yang menewaskan dua anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sedang menjalankan tugas pemeliharaan perdamaian di Lebanon.

Insiden tersebut terjadi pada Sabtu malam ketika mortar shell meluncur ke arah pos United Nations Interim Force Lebanon (UNIFIL) yang ditempati oleh pasukan Indonesia, menimbulkan luka fatal pada prajurit bernama Sersan Abdul Rahman dan Sersan Ahmad Faisal.

Pihak militer Israel menyatakan bukti teknis, termasuk jejak kaliber dan arah tembakan, menunjuk pada perlengkapan militer Hizbullah yang biasanya digunakan dalam konflik perbatasan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Israel menegaskan bahwa serangan ini merupakan tindakan provokatif yang mengancam stabilitas kawasan dan menambah beban operasi keamanan Israel.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk keras aksi kekerasan tersebut dan menuntut agar pihak berwenang melakukan penyelidikan yang transparan serta mengungkap fakta secara akurat.

Juru bicara Kemenlu, Retno Marsudi, menyampaikan, “Kami menuntut investigasi independen yang dapat dipertanggungjawabkan dan menghormati hak asasi semua pihak yang terlibat,” menambahkan bahwa Indonesia siap membantu proses verifikasi bila diperlukan.

Penempatan TNI di Lebanon merupakan bagian dari kontribusi Indonesia terhadap misi penjagaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2018, dengan fokus pada pengawasan zona demarkasi antara Israel dan Hizbullah.

Prajurit Indonesia berada di wilayah yang dikenal rawan bentrokan, mengingat sejarah panjang perseteruan antara Israel dan Hizbullah yang dimulai sejak perang 2006.

Hizbullah sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut, namun kelompok tersebut secara konsisten menolak keterlibatan dalam serangan terhadap pasukan asing di wilayah perbatasan.

Sejumlah analis militer menilai bahwa serangan mortar dapat dipicu oleh eskalasi kecil di atas permukaan, namun dampaknya dapat meluas mengingat sensitivitas geopolitik di wilayah itu.

Indonesia menegaskan komitmennya terhadap prinsip non-intervensi dan mengajak semua pihak untuk menahan diri serta menurunkan intensitas militer demi menghindari korban jiwa lebih lanjut.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah, serta mengajak komunitas internasional untuk memperkuat dialog diplomatik sebagai solusi jangka panjang.

Dalam pertemuan bilateral pekan ini, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyampaikan dukungan penuh kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa Indonesia akan terus berupaya melindungi personel yang ditempatkan dalam operasi perdamaian.

Serangan ini menambah daftar insiden berbahaya yang menimpa pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik, meningkatkan tekanan bagi UNIFIL untuk memperketat protokol keamanan.

Dengan demikian, situasi di perbatasan Lebanon tetap memerlukan pemantauan intensif, sementara Indonesia menuntut kejelasan penyebab serangan dan menyiapkan langkah diplomatik lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.