Media Kampung – 05 April 2026 | IAEA mengonfirmasi bahwa sebuah proyektil menghantam area sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr pada Sabtu pagi, menewaskan satu petugas keamanan.
Insiden terjadi sekitar pukul 08:30 waktu setempat, ketika proyektil menabrak zona pendukung di sebelah barat daya fasilitas nuklir.
Iran melaporkan kejadian tersebut kepada IAEA dan menuduh Amerika Serikat serta Israel sebagai pelaku serangan.
Pernyataan IAEA menegaskan tidak terdeteksi peningkatan tingkat radiasi di lingkungan PLTN setelah ledakan.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyatakan keprihatinan mendalam dan mengimbau semua pihak menahan diri untuk menghindari risiko kecelakaan nuklir.
Bangunan pendukung mengalami kerusakan akibat gelombang kejut, sementara reaktor utama tetap beroperasi tanpa gangguan.
Insiden ini merupakan yang keempat dalam beberapa pekan terakhir yang menargetkan fasilitas nuklir Iran.
Serangan sebelumnya pada akhir Februari, awal Maret, dan pertengahan Maret juga melukai personel dan merusak infrastruktur pendukung.
PLTN Bushehr menghasilkan sekitar 1.000 megawatt listrik per tahun dan merupakan satu-satunya pembangkit tenaga nuklir di Iran.
Iran menyebut korban tewas adalah seorang petugas keamanan yang terluka akibat pecahan proyektil.
IAEA terus melakukan pemantauan rutin dan inspeksi teknis di Bushehr sebagai bagian dari perjanjian pengawasan internasional.
Menurut konvensi internasional, serangan terhadap fasilitas nuklir dilarang karena dapat menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan yang luas.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memuncak sejak akhir Februari, dengan serangkaian serangan udara dan operasi militer di wilayah tersebut.
Iran melaporkan lebih dari 1.300 korban jiwa sejak dimulainya konflik, termasuk tokoh-tokoh senior pemerintahan.
Pemerintah Tehran mengklaim berhasil menembak jatuh beberapa pesawat tempur Amerika dan drone Israel dalam balasan serangan.
Pihak militer Amerika menolak keterlibatan langsung dalam serangan tersebut, namun mengakui eskalasi ketegangan di kawasan Teluk.
Para pakar keamanan menekankan bahwa serangan berulang pada fasilitas nuklir meningkatkan risiko kecelakaan radiasi yang tak terduga.
IAEA menegaskan komitmennya untuk terus memantau tingkat radiasi dan kondisi operasional PLTN Bushehr secara real time.
Direktur Grossi menutup pernyataannya dengan menyerukan dialog diplomatik sebagai satu-satunya jalan keluar dari krisis ini.
Situasi di Bushehr tetap tegang, namun sampai kini tidak ada indikasi kebocoran atau dampak lingkungan yang signifikan pasca serangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.


Tinggalkan Balasan