Media Kampung – 04 April 2026 | Harga bensin di Pakistan mengalami kenaikan dua kali dalam rentang kurang dari satu bulan, memicu kepadatan luar biasa di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) yang menyerupai pasar tradisional.
Kenaikan pertama terjadi pada awal bulan, dengan tarif per liter naik sekitar 8 persen setelah pemerintah menyesuaikan pajak energi dan memperhitungkan depresiasi nilai tukar rupee.
Kenaikan kedua dilaporkan menjelang pertengahan bulan, menambah lagi selisih 5 persen akibat penyesuaian bea impor minyak mentah yang dipicu oleh fluktuasi harga minyak dunia.
Akibatnya, konsumen berbondong-bondong mengisi kendaraan di jam-jam sibuk, menciptakan antrean panjang, tumpukan mobil, dan aktivitas jual‑beli kecil di sekitar pompa yang mengingatkan pada pasar pagi.
Seorang pejabat transportasi menyatakan, “Kenaikan harga bahan bakar secara langsung menambah beban operasional transportasi publik dan pribadi, serta memberi tekanan pada daya beli masyarakat.”
Data resmi menunjukkan harga bensin sebelum penyesuaian berada pada 115 rupee per liter, naik menjadi 124 rupee setelah kenaikan pertama, dan mencapai 131 rupee setelah kenaikan kedua.
Bandingkan dengan tetangga India, di mana harga bensin tetap relatif stabil selama periode yang sama, menegaskan perbedaan kebijakan fiskal dan ketergantungan impor energi.
Pengemudi taksi, ojek, dan sopir truk melaporkan peningkatan biaya harian hingga 15 ribu rupee, sehingga mereka mengatur jadwal pengisian bahan bakar di luar jam sibuk untuk menghindari kemacetan di SPBU.
Pemilik beberapa SPBU mengakui lonjakan permintaan, menambah tenaga kerja, membuka loket tambahan, serta meningkatkan keamanan untuk mengelola kerumunan.
Para ekonom memperingatkan bahwa peningkatan biaya energi dapat memicu kenaikan indeks harga konsumen, menambah tekanan inflasi yang sudah berada di level tinggi.
Pemerintah menjanjikan langkah penyesuaian, termasuk kemungkinan subsidi sementara bagi sektor transportasi umum dan peninjauan kembali struktur pajak energi.
Secara global, harga minyak mentah berada pada level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menambah beban importir negara berkembang seperti Pakistan, yang mengandalkan hampir 80 persen bahan bakar dari luar negeri.
Dengan situasi masih dinamis, otoritas berkomitmen memantau harga secara real time dan menyiapkan kebijakan mitigasi untuk menstabilkan pasar energi domestik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan