Media Kampung – 04 April 2026 | Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai negeri yang akan berlaku mulai 15 April 2026. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Kebijakan WFH mencakup ASN yang bekerja di kementerian, lembaga, badan hukum, serta perusahaan milik negara. Namun, tidak semua pegawai berhak; hanya yang berdomisili lebih dari delapan kilometer dari kantor dapat bekerja dari rumah tiga hari dalam seminggu.

Penetapan hari kerja dari rumah disesuaikan dengan hari libur masing‑masing negara bagian. Contohnya, negara bagian yang libur pada hari Minggu akan mengadakan WFH pada Selasa hingga Kamis, sedangkan yang libur pada hari Jumat akan melaksanakan WFH pada Senin sampai Rabu.

Direktur Jenderal Departemen Layanan Publik Malaysia, Wan Ahmad Dahlan Abdul Aziz, menegaskan bahwa kepala departemen bertanggung jawab menentukan layanan esensial dan menyusun jadwal WFH sesuai kebutuhan operasional.

Beberapa sektor dikecualikan dari kebijakan ini, termasuk Angkatan Bersenjata Malaysia, Kepolisian Diraja, pemadam kebakaran, imigrasi, serta tenaga kesehatan dan pendidikan yang memberikan layanan langsung.

Untuk pegawai yang diizinkan WFH, kehadiran harus dicatat setiap jam melalui sistem pemantauan daring dengan fitur geolokasi. Sistem tersebut terintegrasi dalam HRMIS, sehingga alamat rumah menjadi lokasi kerja resmi.

Wan Ahmad Dahlan menambahkan bahwa setiap kepala departemen wajib menetapkan target kerja yang jelas dan memantau pencapaian secara rutin. Hal ini bertujuan menjaga produktivitas meski bekerja secara remote.

Langkah WFH merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Anwar Ibrahim menyatakan bahwa pengurangan perjalanan harian dapat menurunkan beban permintaan energi nasional.

Pemerintah juga mengeluarkan regulasi suhu pendingin ruangan (AC) tidak boleh diatur di bawah 24°C di gedung‑gedung pemerintah. Kebijakan ini diumumkan oleh Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof sebagai pelengkap upaya penghematan energi.

Fadillah menegaskan bahwa penetapan suhu minimum 24°C diharapkan menurunkan beban listrik pada masa krisis energi. Selain itu, aparatur diminta mengenakan pakaian yang sesuai iklim untuk mengurangi penggunaan AC.

AAKI mendukung kebijakan WFH sebagai langkah relevan menghadapi tekanan energi global. Ketua Umum AAKI, Dr. Trubus Rahardiansyah, menilai transformasi budaya kerja ini penting, namun menyoroti kebutuhan infrastruktur digital di daerah.

Rahardiansyah mengingatkan bahwa pergeseran konsumsi energi ke sektor rumah tangga, seperti peningkatan listrik dan internet, harus dipantau untuk menghindari beban baru.

Anggota Komisi XI DPR RI, Wihadi Wiyanto, menyatakan bahwa kebijakan serupa di Indonesia dan Malaysia menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengendalikan biaya energi. Ia menekankan perlunya subsidi energi tetap berlanjut.

Ekonom dari Next Indonesia, Christiantoko, menilai WFH sebagai simbol pemerintah yang turut berhemat, bukan hanya meminta masyarakat menekan konsumsi. Ia menganggap langkah ini dapat meningkatkan kepercayaan publik.

Pengawasan kehadiran melalui geolokasi diharapkan mengurangi potensi penyalahgunaan dan memastikan akurasi data kehadiran. Sistem ini juga memungkinkan analisis data mobilitas ASN secara real‑time.

Selain WFH, pemerintah mengatur penggunaan kendaraan dinas dengan membatasi hingga 50% kecuali untuk kendaraan operasional atau listrik. Kebijakan ini selaras dengan upaya pengurangan emisi karbon.

Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat menghemat BBM nasional secara signifikan, meski angka pasti belum dipublikasikan. Pemerintah menargetkan pengurangan konsumsi bahan bakar yang dapat menurunkan beban fiskal.

Krisis energi yang dipicu konflik di Asia Barat telah meningkatkan harga minyak dunia, memaksa banyak negara termasuk Malaysia untuk menyesuaikan kebijakan energi domestik.

Sejumlah analis mengingatkan bahwa langkah penghematan energi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas energi terbarukan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Secara keseluruhan, kebijakan WFH dan pengaturan suhu AC mencerminkan respons terpadu pemerintah Malaysia dalam menghadapi tantangan energi global sambil menjaga kelancaran layanan publik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.