Media Kampung – 03 April 2026 | Iran dan kelompok milisi Hizbullah melancarkan serangan terkoordinasi ke wilayah Israel pada akhir Maret hingga awal April 2026, menimbulkan kerusakan parah di dua belas titik serta melukai empat warga sipil.

Hizbullah menembakkan sekitar seratus tiga puluh roket selama dua hari, menargetkan kota Haifa, Nahariya, Kiryat Shmona, Bi’ina, serta pemukiman Kibbutz Ma’ayan Baruch saat perayaan Paskah.

Empat pria mengalami luka ringan; dua di antaranya berasal dari Kiryat Shmona dan dua lainnya dari Bi’ina, kemudian dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Kerusakan infrastruktur meliputi tempat penitipan anak di Nahariya, restoran McDonald di dekat Kibbutz Ma’ayan Baruch, serta sepuluh bangunan lain yang dilaporkan rusak parah.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengutuk serangan tersebut dan menyatakan niat untuk menghukum Ketua Hizbullah, Naim Qassem, secara tegas.

Katz menegaskan bahwa Qassem akan “berakhir di neraka” bersama pemimpin Iran, Hamas, dan anggota poros kejahatan lainnya jika tidak dihentikan.

Israel menegaskan akan melanjutkan serangan balasan ke Hizbullah, termasuk rencana pendirian zona penyangga di Lebanon selatan dan pengawasan penuh wilayah Litani.

Serangan roket Hizbullah dipandang sebagai balasan atas operasi militer Israel yang menewaskan lebih dari empat puluh komandan Hizbullah di Lebanon selatan pada minggu sebelumnya.

IDF sebelumnya menargetkan pusat komando, gudang senjata, dan peluncur roket Hizbullah, serta menghancurkan rumah-rumah yang diduga menjadi basis serangan.

Di sisi lain, Iran meluncurkan misil balistik yang berhasil menembus pertahanan Iron Dome, menghantam wilayah Petah Tikva, Bnei Brak, dan Rosh Haayin.

Rekaman video dari grup Telegram Ramreports dan Hotnews, yang diverifikasi oleh Al Jazeera, memperlihatkan misil Iran melintasi pertahanan dan meledak di area pemukiman.

Serangan misil Iran menewaskan setidaknya dua belas orang, termasuk enam anak dan dua wanita lanjut usia, menambah total korban tewas menjadi dua puluh empat sejak konflik dimulai.

Pejabat Iran menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas agresi gabungan AS‑Israel pada 28 Februari 2026 dan menegaskan akan terus melancarkan serangan balasan.

IDF melaporkan bahwa antara 1 dan 2 April 2026 Iran meluncurkan dua puluh misil, sebagian besar berhasil dicegat, namun beberapa berhasil menembus pertahanan, termasuk yang membawa hulu ledak klaster.

Peningkatan intensitas serangan dari kedua belah pihak menandakan perluasan front konflik, memaksa Israel menghadapi ancaman simultan dari utara dan tengah, serta meningkatkan risiko eskalasi lebih luas.

Situasi saat ini menegaskan bahwa kolaborasi militer Iran dan Hizbullah memperdalam ketegangan regional, sementara Israel menyiapkan langkah-langkah pertahanan dan balasan lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.