Media Kampung – 03 April 2026 | Letnan Jenderal Eyal Zamir menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Israel sejak akhir 2025, menggantikan posisi mantan Sekretaris Militer Benjamin Netanyahu.

Penunjukan Zamir datang pada fase konflik yang semakin intens, terutama setelah serangan roket dan rudal yang terjadi pada malam Paskah.

Pada 2 April 2026, Zamir memimpin sebuah Seder Paskah bersama Brigade ke-146 di wilayah utara, membacakan Haggadah di depan pasukan.

Acara tersebut menekankan hubungan antara tradisi Yahudi dan kewajiban militer, serta mengingatkan prajurit akan ancaman yang terus mengintai.

Selama pembacaan, Zamir menyoroti ayat-ayat yang mengisahkan pembantaian anak sulung Mesir, menyiratkan kesamaan antara pertempuran zaman kuno dan situasi saat ini.

Dia juga mengutip bagian tentang tulah pada ternak, menegaskan pentingnya kesiapan logistik dalam menghadapi serangan musuh.

Koresponden i24 Amichai Stein melaporkan bahwa Zamir berada di garis depan, bersama pasukan cadangan di perbatasan utara, menegaskan komitmen IDF untuk melindungi wilayah.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam video pesan, memperingatkan pimpinan Hezbollah, Naim Qassem, bahwa serangan pada malam Seder akan dibalas dengan keras. Katz menegaskan Israel tidak akan mundur meski tekanan meningkat.

Peringatan itu disampaikan setelah laporan intelijen mengindikasikan kemungkinan serangan terkoordinasi antara Iran dan Hezbollah pada awal Paskah.

Iran menembakkan sekitar sepuluh rudal balistik tepat sebelum matahari terbenam, menandai salah satu serangan paling signifikan dalam beberapa minggu terakhir.

Serangan tersebut tidak berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel, namun menambah ketegangan di wilayah perbatasan selatan dan utara.

Katz menambahkan bahwa pemimpin-pemimpin kelompok teroris seperti Nasrallah, Khamenei, dan Sinwar akan “berakhir di neraka” jika terus melancarkan agresi.

Pernyataan itu mencerminkan strategi militer Zamir yang menekankan penempatan pasukan di daerah Litani sebagai buffer defensif melawan Hezbollah.

IDF telah menyiapkan komando pusat yang disebut “the pit” di kompleks militer Kiyra, tempat Zamir bersama pejabat tinggi melakukan penilaian situasi.

Dalam rapat tersebut, Zamir menekankan pentingnya koordinasi antara intelijen, artileri, dan unit infanteri untuk merespon setiap ancaman secara cepat.

Beberapa politisi Israel juga mengkritik aksi pemukim di wilayah pendudukan, menyebutnya sebagai ‘terorisme Yahudi’, menambah dimensi politik internal.

Isu tersebut menyoroti ketegangan antara kebijakan keamanan nasional yang dipimpin Zamir dan perdebatan tentang ekspansi permukiman di Tepi Barat.

Meskipun demikian, Zamir menegaskan bahwa prioritas utama IDF tetap pada perlindungan warga sipil dan menjaga stabilitas selama liburan keagamaan.

Pemerintah Israel berjanji meningkatkan kehadiran militer di selatan Lebanon hingga Sungai Litani, sebagai langkah preventif terhadap infiltrasi Hezbollah.

Langkah itu sejalan dengan kebijakan Katz yang menuntut penegakan kontrol keamanan penuh di wilayah tersebut.

Di medan perang, Brigade ke-146 melaporkan tidak ada kerugian serius selama Seder, meski operasi pengawasan intensif terus dilakukan.

Zamir menutup acara dengan pesan bahwa IDF akan terus melaksanakan tugasnya dengan keberanian, mengingatkan pasukan bahwa kebebasan tidak datang tanpa pengorbanan.

Analisis militer independen menilai bahwa kepemimpinan Zamir membawa pendekatan yang lebih terintegrasi antara unsur religius dan operasional, menambah moral prajurit.

Namun, para pengamat tetap mengawasi kemungkinan eskalasi lebih lanjut, terutama bila Iran memperkuat dukungan logistik ke Hezbollah.

Situasi saat ini menuntut koordinasi yang kuat antara militer dan politik, dengan Zamir berada di garis depan upaya menjaga keamanan nasional Israel.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.