Media Kampung – 03 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu malam menegaskan bahwa negaranya tidak lagi bergantung pada Selat Hormuz, sekaligus mengajak negara‑negara pengguna minyak untuk mengambil langkah melindungi jalur tersebut, sambil memperingatkan kemungkinan peningkatan operasi militer Amerika dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Trump menyatakan, “Amerika hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan mengimpornya di masa depan,” menekankan keunggulan produksi minyak dan gas domestik sebagai jaminan ketahanan energi AS.
Pernyataan itu muncul di tengah konflik yang dimulai pada akhir Februari antara koalisi Amerika‑Israel dan Iran, yang telah memaksa penutupan sebagian besar lalu lintas kapal tanker di selat strategis itu.
Data intelijen maritim Kpler mencatat penurunan perlintasan sebesar sekitar 95 % sejak awal Maret, mengakibatkan gangguan pasokan energi bagi negara‑negara yang mengandalkan sekitar 20 % konsumsi minyak dunia melalui rute tersebut.
Akibatnya, harga bensin di Amerika melampaui US$4 per galon – level tertinggi sejak 2022 – dan harga minyak mentah global naik 40‑50 % sejak awal konflik, menambah beban inflasi di banyak pasar.
Trump menambahkan bahwa Selat Hormuz akan terbuka kembali “secara alami” setelah perang selesai dan harga gas akan turun, namun para ekonom dan analis energi menolak prediksi itu dengan menyebutkan kerusakan infrastruktur dan risiko geopolitik yang masih tinggi.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, saat kunjungan ke Korea Selatan, menolak gagasan operasi militer paksa untuk membuka selat, menyebutnya tidak realistis dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi kapal yang melintasinya.
Macron menegaskan, “Operasi semacam itu akan memakan waktu lama dan menempatkan semua kapal dalam ancaman rudal balistik serta serangan Garda Revolusi,” menekankan perlunya solusi diplomatik.
Dia menambahkan bahwa Prancis bersama sekutu Eropa sedang membangun koalisi untuk menjamin kebebasan pelayaran setelah konflik berakhir, namun hal itu hanya dapat dicapai melalui dialog langsung dengan Tehran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan bahwa serangan militer Amerika dan Israel terhadap Iran adalah akar penyebab penutupan Selat Hormuz, menyebut aksi tersebut “operasi militer ilegal” yang mengganggu navigasi internasional.
Mao juga menyerukan gencatan senjata segera, menegaskan bahwa “pendekatan militer tidak dapat menyelesaikan masalah” dan mengimbau semua pihak untuk menghentikan operasi bersenjata demi stabilitas energi global.
Ketiga pernyataan tersebut menyoroti perbedaan strategi: Washington menekankan ketahanan nasional dan tekanan militer, sementara Paris dan Beijing menyoroti risiko humaniter serta pentingnya penyelesaian diplomatik melalui Iran.
Dengan Selat Hormuz tetap tertutup dan pasar energi bergejolak, para pengamat memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi setidaknya dalam beberapa bulan ke depan, menuntut koordinasi internasional yang lebih kuat untuk mengurangi ketergantungan pada jalur sempit ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan