Media Kampung – 03 April 2026 | Iran menolak tawaran gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat dan menuntut penghentian total konflik di seluruh kawasan.

Menteri Luar Negeri Sayyid Abbas Araghchi memberi pernyataan eksklusif kepada Al‑Jazeera pada 31 April 2026, menegaskan bahwa penghentian tembak‑menembak sementara tidak memuaskan.

Menurut Araghchi, syarat Iran meliputi akhir total perang, jaminan komprehensif agar tidak terjadi agresi serupa di masa depan, serta pembayaran ganti rugi atas kerugian yang diderita rakyat.

Kompenasi yang diminta mencakup kerusakan infrastruktur, korban sipil, dan biaya pemulihan ekonomi yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

Araghchi menolak klaim Presiden Amerika Donald Trump bahwa Tehran meminta gencatan senjata, menyebutnya informasi palsu dan menilai AS bukan mitra yang dapat dipercaya.

Iran juga menegaskan haknya atas Selat Hormuz, menyatakan selat tersebut merupakan perairan pedalaman Iran dan Oman, serta akan menutupnya bagi kapal negara yang terlibat konflik.

Selama masa perang, selat tetap terbuka bagi kapal non‑musuh, namun akan ditutup bagi armada AS‑Israel yang dianggap agresor.

Dalam konteks militer, Araghchi mengklaim Iran lebih siap secara darat, dengan peralatan lengkap, dan telah menimbulkan kerugian pada radar serta pesawat tanker musuh.

Donald Trump melalui media sosial mengancam melanjutkan serangan hingga Selat Hormuz aman, serta menyatakan gencatan bersyarat bila selat kembali dapat dilewati.

Penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi global karena jalur tersebut mengalirkan sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia.

Para analis memperkirakan skenario jika AS mundur tanpa membuka selat, termasuk blokade selektif Iran, monetisasi lewat biaya transit, atau intervensi internasional untuk menjamin keamanan maritim.

Surat terbuka Presiden Iran Masoud Pezeshkian kepada publik AS menegaskan bahwa perang tidak melayani kepentingan rakyat Amerika, mengajak masyarakat AS menilai kembali narasi konflik.

Pezeshkian menyoroti sejarah panjang Iran sebagai bangsa yang tidak memulai agresi, melainkan membela diri dari intervensi luar.

Ia menuduh kebijakan AS‑Israel berperan sebagai proksi, memperburuk ketegangan regional.

Kondisi saat ini menempatkan Iran pada posisi tawar yang kuat secara diplomatik, namun tetap menuntut penyelesaian yang menyeluruh dan kompensasi.

Tanpa jaminan total dan penyelesaian kerugian, Iran menyatakan tidak akan menandatangani gencatan senjata, menunggu langkah internasional yang dapat menjamin keamanan kawasan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.