Media Kampung – 03 April 2026 | Israel melancarkan serangan udara terhadap pabrik kimia milik Tofiq Daru Company di Iran pada 31 Maret 2026.

Militer Israel menjelaskan bahwa operasi ini bertujuan menonaktifkan produksi bahan kimia yang dapat dipakai untuk senjata kimia.

Pabrik tersebut dianggap sebagai pemasok utama fentanyl bagi Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan (SPND), lembaga yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Iran.

IDF menuduh Tofiq Daru secara sistematis menyediakan zat mematikan tersebut untuk riset senjata kimia.

Serangan itu merupakan bagian dari strategi Israel untuk menghancurkan fasilitas kritis Iran dan menurunkan kemampuan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Dalam minggu sebelumnya, IDF mengklaim telah menyerang sekitar empat puluh situs produksi, riset, dan pengembangan senjata di wilayah Iran.

Operasi tersebut, yang dilakukan pada 28 dan 29 Maret, menargetkan pabrik-pabrik senjata konvensional serta instalasi energi di provinsi Tehran dan Alborz.

Serangan terhadap instalasi listrik menyebabkan pemadaman sementara di beberapa daerah Tehran, Alborz, dan kota Karaj sebelum pasokan kembali pulih.

Kementerian Energi Iran menegaskan gangguan listrik terjadi akibat serangan udara yang diarahkan pada infrastruktur energi kritis.

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas sejak awal Februari 2026, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan agresi.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperkirakan perang ini dapat selesai dalam dua hingga tiga minggu mendatang.

Trump menambahkan bahwa Amerika sedang menyelesaikan operasi militer yang diarahkan pada jaringan militer Iran.

Sementara itu, pernyataan resmi Israel menegaskan tidak ada toleransi terhadap program senjata nuklir atau kimia Iran.

Pemerintah Israel juga memperingatkan bahwa target tambahan akan diserang bila Iran terus mendukung kelompok militan di wilayah tersebut.

Iran menanggapi serangan dengan menyatakan kesiapan melakukan pembalasan terhadap fasilitas strategis di negara sekutu Amerika di Teluk.

Brigadir Jenderal Majid Mousavi, komandan Korps Garda Revolusi Iran, menegaskan bahwa Iran akan menghancurkan instalasi lawan bila infrastruktur mereka diserang.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke beberapa lokasi di Israel dan negara‑negara sekutu Amerika di Teluk.

Sebagian besar serangan tersebut berhasil diintersep oleh sistem pertahanan udara negara tujuan, namun menimbulkan ketegangan tambahan.

Analisis militer menilai bahwa serangan kimia Israel menandai eskalasi baru karena melibatkan bahan beracun yang sebelumnya jarang dipakai dalam konflik terbuka.

Penggunaan fentanyl sebagai bahan kimia precursor menimbulkan keprihatinan internasional terkait potensi proliferasi senjata kimia yang lebih mematikan.

Organisasi non‑pemerintah menyoroti risiko keamanan global bila jaringan produksi kimia berbahaya tidak dapat dikendalikan.

PBB belum mengeluarkan resolusi khusus mengenai serangan ini, namun mengajak semua pihak menahan diri dan kembali ke jalur diplomatik.

Pengamat geopolitik menilai bahwa tekanan militer Israel dan Amerika Serikat dapat mempercepat degradasi kemampuan pertahanan Iran, namun berisiko memperluas konflik regional.

Kondisi saat ini menunjukkan ketegangan yang belum mereda, dengan kemungkinan serangan tambahan di masa mendatang tergantung pada respons masing-masing pihak.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.