Media Kampung – 02 April 2026 | Selat Hormuz telah ditutup selama satu bulan setelah bentrokan bersenjata antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran, memutus jalur utama pasokan minyak dunia.

Penutupan itu menghilangkan antara 13 hingga 20 juta barel minyak per hari, setara dengan sekitar satu per lima kebutuhan global, jauh melampaui 4‑5 juta barel yang hilang pada krisis 1973.

Fatih Birol, Direktur International Energy Agency, menegaskan bahwa ancaman saat ini merupakan yang paling serius dalam sejarah keamanan energi modern.

Lars Jensen, mantan direktur Maersk, memperingatkan bahwa goncangan ini “jauh lebih besar” dibandingkan krisis minyak dekade 70‑an.

Harga minyak mentah telah menembus US$100 per barel, memicu inflasi tinggi dan menambah risiko resesi di ekonomi utama.

Berbeda dengan embargo politik tahun 1973, penutupan fisik Hormuz menghentikan aliran volume yang jauh lebih besar, sehingga dampaknya lebih luas dan mendalam.

Meskipun jaringan energi 2026 lebih terdiversifikasi dengan cadangan strategis dan sumber alternatif, kapasitasnya tetap terbatas bila pasokan utama terhenti.

Para analis memperkirakan biaya energi tinggi akan terus membebani ekonomi global selama enam hingga dua belas bulan setelah jalur kembali terbuka.

Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump berupaya membuka kembali selat, namun ketegangan geopolitik meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut.

Negara‑negara Asia, termasuk Indonesia, menerapkan kerja dari rumah dan menyesuaikan libur nasional untuk mengurangi konsumsi energi.

Pasar gas dan bahan bakar alternatif menunjukkan lonjakan permintaan, mempercepat transisi ke energi terbarukan di banyak wilayah.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, dunia menantikan solusi diplomatik untuk mengakhiri penutupan Hormuz dan menstabilkan pasar energi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.