Media Kampung – 02 April 2026 | NASA berhasil meluncurkan misi Artemis II pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center, Florida. Peluncuran menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah lebih dari lima dekade.

Roket Space Launch System (SLS) yang menggerakkan kapsul Orion memiliki tinggi 98 meter dan setara dengan 32 lantai gedung pencakar langit. Daya dorongnya cukup untuk mengirim empat astronot menembus ruang cislunar.

Empat awak yang mengisi Orion terdiri atas Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA). Christina Koch akan menjadi wanita pertama yang mengorbit Bulan, sementara Victor Glover menjadi orang kulit hitam pertama yang melakukannya.

Jeremy Hansen mencatat, “Ini kami pergi demi seluruh umat manusia,” menegaskan peran internasional dalam misi. Reid Wiseman menambahkan, “Bangsa ini, dan dunia, telah lama menunggu untuk melakukan ini lagi.”

Misi berlangsung selama sepuluh hari, dengan tujuan menguji sistem pendukung kehidupan pada Orion. Selama perjalanan, kapsul akan melintasi jarak sekitar 5.000 mil (8.000 km) dari permukaan Bulan.

Artemis II tidak melibatkan pendaratan; fokusnya adalah mengorbit sisi Bulan yang tak terlihat dari Bumi. Setelah melewati titik terdekat, Orion akan kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik.

Jarak total yang akan ditempuh mencapai 240.000 mil (≈ 386.000 km) menuju Bulan, dan hampir 406.000 km dari Bumi pada puncak misinya. Rekor ini melampaui jarak terjauh yang pernah dicapai manusia pada Apollo 13 tahun 1970.

NASA menyediakan tautan siaran langsung melalui situs resmi nasa.gov, memungkinkan publik di seluruh dunia menonton misi secara real time. Siaran menampilkan rekaman dari Orion, analisis ilmiah, serta situasi di Kennedy Space Center.

Peluncuran terjadi pada pukul 05.35 WIB pada 2 April 2026, menyesuaikan zona waktu Indonesia. Waktu peluncuran di Amerika Serikat tercatat pada Rabu malam, 1 April 2026.

Penggunaan SLS yang setinggi 98 meter menandai penggunaan roket pendorong pertama sejak program Apollo berakhir pada 1972. Ini merupakan langkah signifikan dalam upaya NASA kembali menguasai eksplorasi lunar.

Selama fase orbit, empat panel surya Orion berhasil terpasang dan menyuplai listrik secara kontinu. Hal ini penting untuk memastikan operasi sistem elektronik selama perjalanan.

Kru akan melakukan serangkaian eksperimen ilmiah, termasuk pengukuran radiasi, pengamatan medan magnet, serta evaluasi performa sistem navigasi. Data tersebut akan menjadi acuan bagi misi pendaratan Artemis III yang direncanakan.

Keberhasilan Artemis II dipandang sebagai pembuka era baru bagi program Artemis secara keseluruhan. NASA menargetkan pembangunan pangkalan permanen di permukaan Bulan dalam dekade mendatang.

Kompetisi dengan program luar angkasa China menjadi latar belakang strategis peluncuran ini. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmen untuk mempertahankan kepemimpinan dalam penjelajahan luar angkasa.

Reid Wiseman, komandan misi, menyampaikan harapan bahwa Artemis II akan memperkuat kolaborasi internasional. Ia menekankan pentingnya kerja tim antara NASA, CSA, dan mitra komersial.

Victor Glover, yang sebelumnya berkarier di sepak bola dan gulat di Cal Poly, menyoroti transisi dari atlet ke astronot sebagai contoh keberagaman bakat. Pengalaman atletiknya dianggap memperkuat ketahanan mental di ruang angkasa.

Christina Koch, yang pernah menghabiskan 328 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional, akan menguji batas kemampuan tubuh manusia di lingkungan mikrogravitasi. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi generasi perempuan dalam sains.

Jeremy Hansen, astronot Kanada pertama yang berpartisipasi dalam misi berawak ke luar angkasa, menekankan pentingnya kerjasama lintas negara. Ia berharap misinya membuka peluang lebih luas bagi kolaborasi global.

NASA menegaskan bahwa Artemis II berfungsi sebagai uji coba sistem kritis, termasuk modul layanan, sistem termal, dan kontrol propulsi. Keberhasilan uji coba ini akan menentukan kesiapan misi pendaratan berikutnya.

Pengamatan sisi Bulan yang menghadap jauh dari Bumi akan memberikan data baru tentang medan gravitasi dan topografi. Informasi ini penting untuk perencanaan pendaratan di wilayah kutub selatan bulan.

Selama masa misi, pusat kendali misi di Houston akan berkoordinasi dengan tim di Kennedy Space Center serta laboratorium di seluruh dunia. Komunikasi dilakukan melalui jaringan Deep Space Network.

Artemis II juga menampilkan teknologi baru seperti sistem komunikasi laser yang meningkatkan kecepatan transfer data. Teknologi ini diharapkan menjadi standar pada misi eksplorasi Mars.

Setelah kembali ke Bumi, kru akan menjalani karantina selama dua minggu untuk memastikan tidak ada kontaminasi mikroorganisme. Prosedur ini merupakan bagian dari protokol keamanan misi berawak.

NASA merencanakan publikasi hasil ilmiah dari Artemis II dalam beberapa bulan mendatang. Data tersebut akan diakses oleh peneliti universitas serta lembaga antariksa lainnya.

Keberhasilan Artemis II memperkuat kepercayaan publik terhadap program luar angkasa nasional. Antusiasme masyarakat meningkat, terbukti dari tingginya jumlah penonton siaran langsung.

Misi ini juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk kontrak dengan perusahaan komersial untuk produksi roket dan modul ruang angkasa. Dampak ekonomi diharapkan meluas ke sektor teknologi tinggi.

Dengan Artemis II, NASA menegaskan kembali tekadnya untuk menelusuri lebih jauh ke Mars dalam dekade berikutnya. Pengalaman yang diperoleh menjadi fondasi bagi ekspedisi manusia ke planet merah.

Secara keseluruhan, Artemis II menandai tonggak penting dalam sejarah penjelajahan luar angkasa modern. Keberhasilan misi ini menyiapkan panggung bagi langkah selanjutnya menuju kehadiran permanen manusia di Bulan dan seterusnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.