Media Kampung – 01 April 2026 | Jenderal TNI menegaskan dua prajurit Indonesia tewas dalam serangan terhadap konvoi UNIFIL di Lebanon selatan pada 30 Maret 2026.
Ledakan terjadi di dekat Bani Hayyan, menghantam kendaraan militer dan menewaskan prajurit serta melukai dua lainnya.
juru bicara TNI, Letnan Kolonel Rudi, menyebut bahwa korban adalah anggota pasukan yang tengah melakukan patroli rutin.
Menurutnya, tim medis segera mengevakuasi korban ke rumah sakit militer terdekat, namun nyawa mereka tidak dapat diselamatkan.
Sementara itu, satu prajurit Indonesia lainnya meninggal dalam insiden terpisah pada 29 Maret 2026.
Insiden itu melibatkan proyektil yang menghantam pos UNIFIL di dekat desa Adchit al‑Qusayr.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengutuk keras serangan tersebut melalui akun media sosial resmi.
Ia menekankan bahwa keselamatan personel penjaga perdamaian tidak dapat ditawar dan menuntut penyelidikan independen.
Pemerintah Indonesia juga meminta Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggelar rapat darurat Dewan Keamanan.
Guterres menganggap serangan terhadap pasukan perdamaian sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan bahwa ledakan di pinggir jalan kemungkinan besar dipicu oleh bahan peledak rakitan.
Ia menambahkan bahwa tim investigasi UNUNIFIL tengah mengumpulkan bukti untuk menentukan sumber ledakan.
Pihak Israel melalui militer IDF menyatakan sedang meninjau fakta untuk memastikan tidak ada keterlibatan pasukan mereka.
Namun, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menuding kelompok milisi Hizbullah sebagai pelaku potensial.
Hizbullah belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut.
Kandice Ardiel, juru bicara UNIFIL, meminta Israel menyampaikan bukti apa pun yang dimilikinya kepada tim investigasi.
Ia melaporkan bahwa situasi di zona misi semakin berbahaya dengan aksi tembak menembak yang intens.
UNIFIL mencatat bahwa sejak 1978, misi tersebut telah menampung lebih dari 7.500 personel dari 47 negara.
Konvoi yang diserang merupakan bagian dari rotasi rutin untuk mengamankan jalur suplai di wilayah selatan Lebanon.
Menurut laporan awal, ledakan tersebut kemungkinan berasal dari IED (Improvised Explosive Device) yang dipasang di tepi jalan.
Para saksi di lokasi melaporkan suara keras diikuti asap tebal dan kilatan cahaya.
Pihak militer Indonesia menekankan pentingnya penyelidikan transparan untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab.
Jika terbukti ada keterlibatan pihak luar, Indonesia siap menuntut pertanggungjawaban di forum internasional.
Di samping itu, pemerintah menyiapkan langkah-langkah kontinjensi termasuk kemungkinan penarikan pasukan sebagai bentuk protes.
Keputusan tersebut akan dipertimbangkan oleh Presiden Jokowi bersama tim keamanan nasional.
Para pejabat menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada misi perdamaian, namun tidak akan mengabaikan risiko terhadap prajuritnya.
UNIFIL menambahkan bahwa serangan tersebut menambah daftar korban sejak 1978, meningkatkan tekanan pada pihak terkait untuk menurunkan intensitas konflik.
Dalam pernyataan resmi, Jean‑Pierre Lacroix, kepala operasi perdamaian PBB, menegaskan pentingnya menjaga keamanan pasukan penjaga perdamaian.
Ia menutup dengan harapan semua pihak dapat menahan diri dan menghormati norma internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








Tinggalkan Balasan