Media Kampung – 01 April 2026 | Dua kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) milik PT Pertamina International Shipping, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di perairan Selat Hormuz dan belum dapat melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai situasi ini mengancam ketahanan energi nasional dan meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengatur pertemuan dengan Presiden Iran untuk mencari solusi diplomatik.

PT Pertamina menegaskan bahwa kondisi seluruh awak kapal berada dalam keadaan aman dan terus dipantau secara intensif oleh tim operasional perusahaan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa perusahaan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta otoritas setempat guna memastikan keselamatan kru dan muatan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui juru bicara Yvonne Mewengkang mengonfirmasi bahwa Iran telah memberikan pertimbangan positif terkait keamanan perlintasan kapal Pertamina di Selat Hormuz.

Meski respons Iran bersifat positif, Baron menambahkan bahwa masih diperlukan persiapan teknis, termasuk asuransi tambahan dan kesiapan operasional kru, sebelum kapal dapat melintasi selat.

Sebelumnya, dua kapal tanker Pertamina, Rinjani dan Paragon, berhasil keluar dari zona konflik pada pertengahan Maret 2026, namun kedua VLCC yang tersisa masih tertahan.

Selat Hormuz merupakan jalur penyedia sekitar 20% ekspor minyak dunia; penutupannya dapat mengganggu pasokan minyak mentah ke Indonesia dan menambah tekanan pada pasar energi global.

Dalam rapat Komisi XI DPR, anggota Komisi menyatakan bahwa pertemuan langsung antara Presiden Prabowo dan pejabat tinggi Iran diperlukan untuk mengatasi hambatan diplomatik yang masih ada.

Presiden Prabowo belum mengonfirmasi tanggal pertemuan, namun DPR menegaskan bahwa langkah tersebut harus segera diambil guna mengamankan kepentingan energi negara.

Pertamina menegaskan komitmennya untuk memberi pembaruan secara berkala kepada publik dan akan terus memantau perkembangan situasi hingga kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Dengan koordinasi lintas kementerian yang terus intensif, harapan kini terletak pada hasil pertemuan diplomatik antara Indonesia dan Iran untuk mengakhiri penahanan kapal dan memastikan kelancaran aliran energi nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.