Media Kampung – 01 April 2026 | Kapal perang Armada Pasifik Rusia berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok pada 29 Maret, menandai kunjungan militer pertama dalam beberapa tahun terakhir.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan kehadiran kapal tersebut merupakan simbol kerja sama militer yang sudah lama terjalin, bukan ancaman bagi negara manapun.

Ia menambahkan kesiapan Rusia untuk berkolaborasi dengan Indonesia sejalan dengan kegiatan bersama TNI‑AL yang telah direncanakan.

Armada yang berlabuh terdiri dari korvet Gromky‑335, kapal selam Kilo‑class Petropavlovsk Kamchatsky B‑274, serta kapal tunda Andrey Stepanov.

Korvet Gromky‑335 masuk dalam kelas Steregushchiy, dilengkapi rudal berpemandu, torpedo, artileri, serta helikopter yang dapat beroperasi dari atas geladak.

Laksamana Muda Evgenii Myasoedov, Wakil Komandan Armada Pasifik, menyatakan kapal tersebut mampu mengawal kapal dagang maupun perang dan melakukan patroli anti‑kapal selam pada jarak jauh.

Kapal selam Kilo‑class digambarkan sebagai salah satu unit paling modern di dunia, dengan kemampuan anti‑kapal selam serta penyerangan target di daratan.

Myasoedov menegaskan tugas utama kapal selam adalah mendeteksi dan menetralkan ancaman bawah air, sekaligus mampu menyerang instalasi pantai bila diperlukan.

Kapal tunda Andrey Stepanov berfungsi sebagai unit pendukung, menyediakan layanan penarikan dan logistik, tanpa peralatan tempur.

Tolchenov menekankan kunjungan ini juga dimaksudkan untuk memperlihatkan peralatan militer modern Rusia kepada mitra Indonesia.

Ia menambahkan bahwa kedua negara sedang mengevaluasi peluang kerja sama alutsista yang lebih luas di masa depan.

Rusia mengantisipasi Indonesia mengirim kapal perang ke Vladivostok pada Juni‑Juli mendatang sebagai bagian dari pertukaran militer timbal balik.

Hubungan militer ini berakar sejak era 1960-an, ketika Uni Soviet mengirim kapal, kapal selam, dan pesawat tempur ke Indonesia.

Selama lebih enam dekade, kerjasama meliputi pelatihan, latihan gabungan, serta bantuan teknis di bidang kelautan.

Kunjungan kali ini bertepatan dengan rencana latihan bersama antara TNI‑AL dan angkatan laut Rusia yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.

Pihak Angkatan Laut Indonesia menegaskan bahwa berlaburnya kapal perang asing di pelabuhan komersial mengikuti prosedur internasional yang berlaku.

Mereka menambahkan bahwa langkah keamanan telah dikoordinasikan dengan otoritas pelabuhan untuk menjamin penambatan tiga kapal secara aman.

Pengamat kawasan mencatat bahwa kehadiran kapal tidak mengubah keseimbangan strategis di Asia Tenggara, melainkan mencerminkan kebijakan luar negeri Indonesia yang non‑aligned.

Mereka juga menekankan bahwa kunjungan ini tidak diperkirakan memicu reaksi negatif dari negara‑negara tetangga mengingat ruang lingkup operasionalnya terbatas.

Kapal Rusia akan tetap berada di Jakarta selama beberapa hari untuk melakukan briefing, inspeksi, dan pertukaran budaya dengan kru lokal.

Media lokal melaporkan minat publik yang bersahaja, dengan sejumlah warga berkumpul di pelabuhan untuk menyaksikan armada tersebut.

Peristiwa ini menegaskan pendekatan Indonesia dalam menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan guna menjaga keamanan maritim serta fleksibilitas diplomatik.

Secara keseluruhan, kedatangan kapal perang Rusia merupakan isyarat diplomatik, memperkuat kemitraan lama sekaligus menegaskan tidak adanya niat bermusuhan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.